Murid-Murid Bermasalah Ingin Membuat Komunitas Bermasalah? – Bab 2

144

Murid-Murid Bermasalah Ingin Membuat Komunitas Bermasalah? – Bab 2


Bab 2

  Pada keesokan paginya, suara minyak yang dipanaskan dapat terdengar dari arah dapur. Di sana, seseorang gadis yang memakai  hakama dan gaun pelayan panjang  terlihat sedang mengocok telur selagi pandangan matanya melirik wajan.

“Sudah saatnya, ya.”

Ethel mulai menggoreng telur dengan segaris senyuman simpul di wajahnya.

Di sisi lain, di lantai 2. Willem baru saja selesai berganti pakaian. Kali ini, pakaian yang ia kenakan adalah seragam Akademi Altheria.

Mengenakan jas putih cerah yang berlawanan dengan warna rambutnya. Willem melihat dirinya sendiri di cermin selagi terkekeh geli.

“Ini sangat tidak cocok denganku.”

Willem mnurunkan bahu dan alisnya selagi menghela napas pendek, memakai pakaian yang sudah repot-report disiapkan untuknya. Willem terpaksa, karena ini sudah jadi salah satu peraturan Akademi.

“Seragam ini benar-benar tidak cocok denganku? Saat kemarin malam juga  ….”

Willem berkata dengan suara mengeluh dan mendorong dirinya ke belakang untuk duduk di tepian kasur.

Willem memikirkan kejadian kemarin malam, saat ia bertemu dengan asisten Kepala Sekolah Felycia.

—————————————————————————————————————

Saat Willem melupakan satu hal yaitu mencari asisten Felycia, ia menyadari sorot mata yang mengarahnya dan berkata dengan ekspresi dan suara yang sedikit serius:

“Ngomong-ngomong … Hei, yang dari tadi mengintip kamar seseorang, hobimu jelek sekali, ya?”

Willem memang baru menyadari tatapan itu tadi, tapi ia menambahkan gertakan yang bertujuan untuk memancing si pelaku.

“Wah wah, aku terkejut.”

Sebuah suara tipis yang hilang begitu saja saat suara pintu yang tiba-tiba terbuka lebar seperti didorong angin yang kuat.

Di sana, di bawah cahaya lampu. Berdiri seorang gadis yang sangat cantik. Daripada disebut cantik atau anggun, gadis itu lebih cocok disebut manis.

Rambutnya yang panjang berwarna kuning keemasan dengan model gaya rambut pita itu terlihat sangat indah juga terdapat pita hitam besar dengan corak merah gelap yang mengikat  rambut pitanya.

Di bawah alisnya yang tipis, terdapat mata merah yang sama seperti milik Felycia. Akan tetapi cahaya dingin yang terpancar dari matanya itu memberikan kesan misterius dan akan membuat siapa pun menoleh ke arahnya jika berpapasan dengannya di jalan.

Dan dengan langkah kaki melankolis, ia berjalan mendekati Willem dan berhenti di depan Willem setelah menggerakan beberapa langkah.

“Kau bisa mendeteksi kebaradaanku, lumayan untuk murid pindahan baru.”

Willem mengamati kembali sosok gadis manis yang berada di depannya itu. Tubuhnya yang lebih pendek dari gadis pada umumnya tertutupi setelan baju gothic lolita lengkap dengan hiasan kepala yang berwarna hitam dan bercorak merah dengan banyak renda itu sungguh menambah kemanisan si gadis.

“Siapa kau?”

“Namaku Lucia, aku adalah asisten Kepala Sekolah Felycia yang seharusnya kau temui hari ini.”

Lucia berkata dengan suara dan ekspresi datar selagi memberikan seragam Akademi Sihir Altheria ke Willem seraya menatap matanya.

Willem menerima seragamnya dan menghiraukan sindiran Lucia dengan menyunggingkan senyum masam di wajahnya.

“Terima kasih, lalu, apa lagi yang harus aku lakukan?”

“Tidak ada.”

“Huh?”

“Tidak ada aku bilang.”

“Lalu, apa ada informasi lain tentang akademi ini?”

Willem memberikan tatapan penasaran miliknya pada Lucia. Ia seperti ingin mengetahui sesuatu yang lebih mengenai Akademi Altheria. Namun ia menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak diwajibkan untuk memberitahukannya padamu.”

Willem melipat lengan di dadanya seperti memahami ucapan Lucia. Ia terdiam sesaat sebelum berkata sambil menunjukkan segaris senyuman miring di wajahnya.

“Begitu, ya. Terima kasih Lucia, ‘kan?”

Lucia tidak menjawab dan ia hanya menganggukkan kepalanya pelan kemudian membalikkan punggungnya ke arah Willem lalu berjalan keluar kamar tanpa menengok ke belakang lagi.

“Selamat tinggal.”

Dalam sekejap mata Lucia menghilang dari pandangan Willem, hal itu membuat Willem tercekat dan seharusnya ia akan penasaran dengan sihir apa yang digunakan Lucia.

Akan tetapi ia lebih fokus mengingat suara Lucia yang terkesan sedih dan kesepian, oleh karena itu Willem dapat menghiraukan pikiran lainnya.

Walaupun itu hanyalah pertemuan singkat yang seharusnya tidak meninggalkan kesan apa pun. Tapi hal itu membuat Willem penasaran dengan kemisteriusan Lucia sampai-sampai membuatnya bersemangat.

Tentu ketertarikan Willem tidak ada kaitannya dengan kelainan seksual, tapi bisa diklasifikasikan sebagai ketertarikan pada “Hal yang belum diketahui”. Sekalipun Lucia seharusnya tidak termasuk pada “Hal yang belum diketahui” itu,  karena dia mungkin masih termasuk dalam golongan manusia.

Tapi alasan utama Willem tertarik adalah karena mungkin saja ingin melihat sisi lain dari Lucia.

Lalu saat ia melihat ke arah jendela yang berada di sudut ruangan, ia baru sadar di luar sana sedang hujan lebat. Berjalan mendekati jendela, Willem dapat melihat air hujan yang mengalir di kaca jendela seperti aliran sungai deras.

Menjatuhkan tubuhnya di atas kasur setelah menyimpan seragamnya di atas meja, lalu membenamkan kepalanya dalam selimut, Willem mulai menutup matanya.

—————————————————————————————————————

“Tuan Will–, Willem! Sarapan sudah siap!”

Mendengar seruan Ethel dari dapur, Willem berdiri dan berjalan menuju dapur selagi menyaut.

“Ya!”

Saat Willem sampai di ruang makan, ia dapat melihat meja panjang di ruangan tengah tersebut dan kursi yang berwarna putih bersih sehingga tidak akan masalah jika mengenakan seragam putih yang mudah kotor sekalipun.

“Selamat pagi, Willem.”

Ethel tersenyum simpul saat menyapa Willem. Membalas senyuman Ethel, lalu duduk di kursi meja tersebut. Ethel menuangkan teh ke atas cangkir yang sudah ia siapkan, sementara Willem dengan santai bertanya.

“Aku sedikit penasaran tentang ini, apa kau ini roh?”

“Jika yang dimaksud Anda ‘roh’ dalam pengetahuan sihir, bisa disebut begitu.”

Ethel yang sedang menuangkan teh menyunggingkan senyum tipis.

“Hoo, aku menjadi tertarik. Bisa kau jelaskan lagi lebih detail?”

Willem menaikkan alisnya saat bertanya, mengambil teh yang sudah disiapkan Ethel dan menyesapnya.

“Bisa dibilang saya adalah belahan jiwa dari Nona Ether, ahh, tapi bukan belahan jiwa dalam artian lain …,”

Ethel tersenyum sembari melambaikan kedua tangannya untuk menyanggah kata yang dimaksud seraya melanjutkan.

“Sebenarnya, saya hanyalah roh lemah yang berusaha bertahan di Etheria. Akan tetapi Nona Ether memberikan sebagian kecil dari partikel roh miliknya kepada saya saat kekuatan roh saya hampir menghilang, dan membuat saya bisa berubah menjadi wujud ini.”

“Hehh …”

Mata Willem berkilat karena rasa ingin tahu. Ini kemungkinan karena mendengar kata yang asing baginya.

“Partikel roh, kah … aku menjadi semakin tertarik dengan topik roh, sebuah kehidupan misterius yang tidak begitu kupahami.”

“Tidak, bukan itu.”

Ethel menggeleng-gelengkan kepalanya pelan menyanggah kesimpulan Willem dan melanjutkan dengan suara lembut:

“Biasanya roh adalah jiwa makhluk hidup yang sudah meninggal, tapi ada juga jenis roh yang terdiri dari partikel roh yang meningkat ketika level roh mereka telah mencapai titik di mana bisa disebut roh, Anda mengerti?”

Willem menelengkan kepalanya seperti berkata menggunakan bahasa tubuh.

“Tadi kau bilang ‘makhluk hidup yang sudah meninggal’, ‘kan? Berarti bolehkah aku mengambil kesimpulan kalau bukan hanya manusia saja yang menjadi roh? Seperti hewan atau tumbuhan misalnya?”

Ethel menganggukan kepalanya sambil menyunggingkan senyum tipis dan mengisi ulang teh di cangkir Willem.

“Tapi aku masih sedikit bingung dengan ‘partikel roh’ yang kau sebutkan, bisakah aku memintamu untuk menjelaskannya padaku dengan cara yang berbeda?”

“Partikel roh adalah perwujudan dari keinginan makhluk hidup. Harapan, cinta, amarah, dan keputusasaan. Jadi bisa dibilang partikel roh adalah emosi yang mempunyai wujud.”

Willem kehilangan kata-katanya beberapa saat.

“Berarti dalam kasus partikel roh yang menjadi roh, bukankah itu akan menjadi kasus ‘kehidupan muncul dari ketiadaan’?”

“Seperti yang Anda katakan. Dalam kasus itu jika roh ingin meraih ‘kehidupan’ ia harus melewati beberapa tahapan.”

“Itu?”

Willem kehilangan kata-kata.

Ia mengingat kembali apa yang dikatakan Nea saat memarahinya dan menghubungkannya dengan topik yang sedang ia bicarakan dengan Ethel.

“Jadi, salah satu faktor penting untuk roh mencapai titik ‘kehidupan’ adalah penyihir, kan?”

Ethel tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Ya, Anda benar sekali. Para roh bisa memanifestasikan tubuhnya karena sudah menjalin sumpah atau janji dengan para penyihir dengan harga sepantasnya.”

Willem menaikkan alisnya selagi bertanya dengan suara bingung:

“Harga?”

“Ya, biasanya harga yang ditentukan sesuai dengan level roh yang kita panggil. Semakin kuat roh maka semakin mahal harga yang harus dibayar, begitu pun sebaliknya. Untuk harga biasanya, rambut, darah, sampai jiwa sekalipun.”

“Oh  ….”

Berbicara sampai titik tersebut, Willem meletakkan sikunya ke atas meja sambil menopang wajahnya saat ia melemparkan pertanyaan kepada Ethel.

“Ngomong-ngomong, dalam kasus kau dan Ether. Apa kalian memiliki orang yang dipanggil ‘Tuan’? Seperti yang kau katakan bukan? Roh harus memiliki Tuan untuk bisa mencapai titik kehidupan?”

Mendengar pertanyaan Willem yang menumpuk, Ethel menunjukkan segaris senyuman miring di wajahnya, dan menjawab dengan ramah:

“Untuk kasus saya, saya bisa mempunyai kesadaran, itu karena saya menerima sebagian partikel roh dari Nona Ether dan itu membuat saya menjadi roh yang mempunyai kesadaran sendiri. Tapi banyak juga kasus roh hidup yang berbeda, misalnya roh yang menyerap energi sihir disekelilingnya dan membuatnya naik level ke Human Spirits, ataupun hewan suci. Dan sayangnya saya tidak terlalu tahu dengan kasus Nona Ether.”

“Begitu, ya  ….”

Willem menghela napas kecewa dan terkejut ketika mendengarnya.

Dipikir-pikir kembali, ini bukanlah sesuatu yang harus ditanyakan. Jadi seharusnya tidak mengejutkan jika ada hal yang amat sangat membingungkan di sekitarnya.

Meskipun ia masih memiliki segunung pertanyaan, Willem memutuskan untuk memendamnya dan menemukan jawabannya sendiri.

“Baiklah, untuk sekarang kita sarapan terlebih dahulu.”

“Baik.”

“Selamat makan!”

Setelah menyelesaikan makan mereka, Ethel tinggal untuk membereskan meja sementara Willem pergi ke Akademi.

Melewati bangunan-bangunan yang tidak berpenghuni tersebut, Willem dapat melihat bangunan sekolah yang seperti istana.

Ketika ia akan sampai di gedung sekolah, kelopak bunga berwarna merah muda bertebaran di udara ketika pohon-pohon yang mirip bunga sakura mulai menumbuhkan tunas hijau baru di sampingnya.

Meskipun Willem memiliki keinginan untuk berhenti dan menikmati pemandangan dari kelopak bunga merah muda yang bertebaran di tengah angin tersebut, Willem memutuskan untuk menahan godaan tersebut dengan menjadikan pergi ke Akademi sebagai prioritas utama.

Ketika Willem sampai di depan gerbang sekolah, di sisi gerbang terlihat sosok yang begitu mencolok, sampai-sampai membuat semua murid yang melewatinya mengalihkan pandangannya sejenak ke arahnya.

Sebuah sosok yang memberikan kesan misterius dan manis hingga membuat para murid yang melihatnya terkagum, Willem tahu siapa dia, jadi ia berjalan mendekatinya lalu menyapanya dengan menyunggingkakan seulas senyum.

“Selamat pagi, Lucia.”

Lucia tidak menjawab, ia dengan cepat menampilkan ekspresi tidak menyenangkan di wajahnya ketika melihat Willem datang.

“Wahh, aku kira kita tidak akan bertemu lagi setelah kau berkata ‘selamat tinggal’ kemarin.”

Willem berkata sambil terkekeh geli selagi menatap Lucia yang terlihat kulit pipinya yang putih sedikit memerah.

Mengalihkan pandangannya ke gedung sekolah, Lucia melangkahkan kakinya seraya berujar:

“Ikuti aku.”

Karena respon Lucia kurang jelas, Willem bingung. Walau begitu, ia mengikuti Lucia dan pergi memasuki gedung sekolah.

Saat mereka berjalan berdampingan di lorong sekolah, mereka menerima pandangan kagum dari para murid dan sebagian lainnya berbisik-bisik selagi menatap mereka berdua.

“Hei, mereka siapa?”

“Bukankah itu murid baru yang direkomendasikan oleh Nea vee Altina?”

“Siapa gadis imut yang disampingnya?

“Jangan-jangan dia murid baru lainnya?”

“Hah? Anak kecil itu? Kau pasti bercanda.”

Willem tampak melihat ke sekelilingnya sedangkan Lucia tetap menatap lurus dan menghiraukan bisikkan murid.

Willem yang mendengar bisikkan para murid menjadi penasaran, dan bertanya pada dirinya sendiri,

  kenapa para murid tidak mengenal Lucia? Padahal ia asisten Kepala Sekolah Felycia.

Tapi Willem tidak menanyakannya langsung ke Lucia dan tetap terdiam sampai ia berada di tempat tujuan Lucia.

Ketika mereka sampai di depan pintu sebuah ruangan yang di atas pintunya terdapat tulisan ‘Ruang Konseling’ mereka disambut oleh seorang wanita yang memakai setelan black suit dengan rok pendek selutut ditambah dengan sepasang stocking. Tungkainya panjang dan dada yang besar, memakai pakaian yang ketat yang dengan jelas menonjolkan bentuk tubuhnya.

Rambutnya yang agak panjang berwarna coklat cerah itu terurai dipunggungnya yang tegak, sebagian rambut di poni kirinya dikepang melewati telinga ke bawah oleh pita hitam kecil. Di bawah bulu mata yang lentik tampaklah mata coklat yang memancarkan cahaya sehangat matahari.

Willem dapat menebak umur wanita yang ada di hadapannya, umurnya sekitar 22-24 tahun.

Wanita itu  menampilkan segaris senyuman ramah saat menyambut Willem dan Lucia.

“Selamat pagi, namaku Arin Ursula. Aku adalah guru baru di Akademi ini dan umurku dua puluh tahun, salam kenal.”

Prediksi Willem salah, ternyata ia lebih muda dua tahun.

Mendorong gagang pintu secara perlahan, Arin membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk.

Saat mereka masuk, mereka dapat melihat ruangan yang sangat berantakan. Lembaran-lembaran kertas dan dokumen bertebaran di lantai, dan tepat di tengah-tengah ruangan itu terlihat seorang pria yang menempelkan kepalanya ke atas meja.

“Nnng, Pak Steven?”

Arin memasang ekspresi masam saat memanggil pria yang bernama Steven itu.

“Ohh, aku lupa. Maafkanlah aku, jadi kau murid pindahan baru itu?”

Steven mengangkat kepalanya sembari menaikkan sikunya ke atas meja dan menahan dagunya.

Hal yang paling mencolok saat Willem melihat wajah Steven adalah luka di dahinya yang sepanjang 5cm melewati alisnya.

Rambutnya yang berantakan dan matanya yang suram sangat mencermikan seorang pemalas, dan mengatakan alasan kenapa ruangan ini berantakan.

“Aku perkenalkan dia adalah Steven Alciel. Walaupun begitu, dia adalah guru pembimbing … dan sayangnya dia adalah ahli sihir yang hebat.”

Arin tersenyum saat memperkenalkan Steven, tapi Willem merasa senyuman Arin itu seperti dipaksakan dan ia hanya mengangguk dengan keringat sebiji jagung di dahinya.

“Oi, oi. Apa-apaan dengan perkenalan itu, apa kau sangat membenciku?”

Steven protes dengan suara mengantuk sambil membenarkan posisi duduknya, lalu Arin menjawab dengan singkat:

“Ya!”

“Terus terang ya  ….”

Steven menundukkan kepalanya sementara tangannya ia turunkan seperti mengambil sesuatu dari laci meja.

Saat mereka sibuk melihat Steven yang sedang sibuk mencari sesatu di laci meja, hujan pun mulai turun di luar sana.

Awalnya Willem pikir bahwa itu akan menjadi hujan yang singkat, tapi begitu ia menyadarinya bahwa intensitasnya telah berubah menjadi hujan yang begitu lebat dan deras.

Angin yang bertiup ke arah bingkai jendela menyebabkan suara yang menganggu dan membuat tetesan hujan beralih haluan secara horizontal mengenai kaca jendela.

“Hujan lagi ya … kenapa akhir-akhir ini sering sekali hujan, padahal baru permulaan musim gugur.”

Steven mengeluh seperti orang tua pemalas yang memandang ke luar jendela di belakangnya yang terdapat halaman yang mendapat pengairan langsung dari hujan yang lebat.

“Kalau diingat-ingat lagi, Arin, bukankah hari saat dulu kau dihukum juga hujan seperti.”

Steven tertawa serak saat ia mengingat kembali peristiwa di masa lalu.

“Benar, saat itu Anda menghukum saya karena terlambat dan menyuruh saya menyiram semua bunga di halaman, ‘kan?”

“Ahahaha, benar sekali. Walaupun aku tidak ingat alasan aku menyuruhmu melakukan itu saat hujan.”

Kedua tangan Arin saling bertautan semakin erat sementara bibirnya ia tahan agar tetap tersenyum. Mungkin Arin melakukan itu karena menjaga formalitas di depan muridnya, mengingat ia masih baru sebagai guru.

Itulah yang Willem pikirkan.

“Ngomong-ngomong, apa Bu Arin itu alumni dari sekolah ini?”

Willem tiba-tiba bertanya yang membuat Arin mengalihkan pandangannya ke arahnya dan menjawab:

“Benar, aku lulusan dua tahun lalu di Akademi Sihir Altheria.”

“Ohhh, dan apa yang ibu lakukan selama dua tahun itu sebelum menjadi guru di sini?”

Saat mendengar pertanyaan Willem, Arin memasang ekspresi masam sementara pandangan matanya ia alihkan ke arah lain dan berusaha menjawab dengan gugup.

“So-Soal itu, a—“

“Dia menjadi NEET.”

Steven tiba-tiba menyela pembicaraan sehingga membuat Arin menundukkan kepalanya dengan wajah yang sudah berwarna merah padam.

“Ibu bodoh, ‘kan? Aku malah menyia-nyiakan hidup dua tahunku dengan berdiam diri.”

Willem menggelengkan kepala tanda tak setuju.

“Tidak juga, kalau begitu bolehkah aku memanggil Ibu, Kak Arin?”

Arin mengangkat kepalanya lalu ia menyunggingkan segari senyum dan menjawab dengan suara ceria:

“Tentu!”

“Ahhh, aku lupa menaruh dokumen yang diberikan Kepala Sekolah Felycia, Arin. Bisakah aku memintamu untuk mencarinya di loker guru?”

Pada saat bersamaan ia berujar, Steven berdiri selagi menyunggingkan senyum.

Menurunkan bahunya bersamaan dengan helaan napas panjang, Arin mengangguk sementara tangannya menarik pintu dan keluar ruangan.

“Kuncinya ada di atas mejaku di ruang guru!”

Arin mengangguk pelan dan menutup pintu dengan suara berdebum.

“Jadi, sekarang tinggal kita berdua.”

“Huh?!”

Willem cepat-cepat melihat ke sampingnya berharap melihat seseorang yang tadi membawanya ke ruangan ini, sebelum Steven berujar sembari menunjukkan sedikit keseriusannya:

“Kalau kau mencari asisten Felycia, dia sudah pergi sejak Arin memperkenalkan diriku kepadamu.”

Berjalan mendekati jendela untuk bersandar, Steven lalu melanjutkan dengan suara percikan tetesan hujan sebagai suara latar belakang.

“Apa kau tahu? Kemarin dan hari ini terjadi badai, bukan? Apa menurutmu ada yang aneh, Willem?”

Tiba-tiba menerima pertanyaan yang membingungkan, Willem mengernyitkan alisnya bingung dan menjawab dengan ragu-ragu:

“Bukankah hanya kebetulan?”

“Tentu saja kau menjawab begitu ya, kalau begitu kenapa kau tidak bertukar tempat denganku?”

Steven berjalan mendekati tempat Willem berdiri sementara Willem berjalan mendekati jendela.

“Bagaimana?”

Kini Willem sedang memandangi pemandangan di luar jendela saat ia menyadari sesuatu yang kurang dari badai ini.

“Tidak ada suara petir sama sekali?”

Willem yang berpikir demikian menangkap sekilas siluet yang melewati gedung sekolah dan melesat ke arah hutan.

“Apa itu?”

Willem bergumam yang hanya dapat ia dengar sendiri.

“Benar, jika disebut bencana alam mungkin masih bisa masuk akal. Tapi, bagaimana kalau ini adalah ulah seseorang?”

Willem merasa tertarik dengan pertanyaan menyindir Steven dan ia pun menyunggingkan senyum miris.

“Jadi, Pak Steven mencurigaiku?”

Menaikkan bahunya, Steven membalas senyum miris Willem dengan senyuman ringan dan menjawab:

“Siapa tahu? Aku hanya bertanya kau tahu? Mengingat bencana ini terjadi saat kau datang ke Akademi ini.”

Mulai berpikir secara berfilsafat, Willem mengerti alasan Steven mencurigainya itu sangat masuk akal, semenentara tangannya menyentuh embun yang terbentuk di jendela saat ia tersenyum miris.

Hujannya semakin lebat. Hujan deras tanpa sedikit pun suara gemuruh dari kilat yang menyambar itu tidak menunjukkan tanda-tanda melemah dalam waktu dekat.

“Yah, aku juga setuju.”

Menjadi seseorang yang dicurigai saat baru memasuki hari pertama sekolah. Itu benar-benar pengalaman yang sangat mengejutkan dan Willem sendiri ingin tertawa memikirkan nasibnya sendiri.

Tapi, walaupun begitu. Willem terlihat senang, itu karena, sebentar lagi … ia pasti akan mendapatkan semua pengalaman pertama kali dalam hidupnya.

“Yah, jangan terlalu dipikirkan Willem, mungkin ini hanya hipotesisku saja. Ini surat yang Kepala Sekolah Felycia berikan padaku.”

Steven memberikan sebuah surat dengan cap bulan merah sembari tersenyum.

“Ahh, terima kasih. Ngomong-ngomong, Pak Steven ternyata suka menjahili orang ya, tapi aku bisa mengerti kalau kau hanya menjahili Kak Arin saja.”

Ekspresi Willem berubah drastis dan berkata dengan ceria seraya mengambil surat yang diberikan Steven.

“Benarkan? Sifatnya yang begitu membuatku ingin menjahilinya terus menerus.”

Mereka berdua tertawa geli dan membuat suasana berat tadi menghilang seperti gelembung sabun.

“Ehemm.”

Tiba-tiba suara seseorang yang pura-pura batuk terdengar dari belakang Steven, dan suara itu menghilangkan senyum di wajah Steven.

“Ohh, Kak Arin. Apa Kakak sudah mengambil dokumen yang diminta Pak Steven?”

Willem bertanya dengan suara ceria dan senyuman miring yang ia tunjukkan kepada Steven.

“Ya, sayangnya aku tidak menemukan dokumen itu di lokernya, atau mungkin saja dokumen itu tidak pernah ada sama sekali.”

Arin berucap sambil tersenyum dengan alis yang sudah berkedut hebat, dan ekspresi marah yang ditahan.

“Kalau begitu, aku akan pergi ke kelas. Semuanya sudah di tulis di surat ini, kan? Sampai jumpa lagi, Kak Arin, Pak Steven.”

Willem berjalan mendekati pintu lalu menariknya hingga terbuka lalu menunduk sopan dan menutup pintu ruangan.

Dan saat Willem baru melangkahkan kaki menjauhi ruangan, ia dapat mendengar suara teriakan pria dari belakangnya.

Mencabut segel lilin dengan lambang bulan itu lalu membukanya selagi berjalan menyusuri lorong sekolah, Willem mulai membaca isinya:

      <<Kepala Sekolah Akademi Sihir Altheria Felycia de Lilith>>

            *Kepala Sekolah mengkonfirmasi bahwa surat ini asli ditulis oleh Felycia de Lilith.

            *Berdasarkan peraturan yang tertulis bahwa; salah satu 10 Penyihir Elit dapat merekomendasikan seorang murid dan mendapat perlakuan sesuai aturan yang ditentukan.

            *Kursi ke 7 dari 10 Penyihir Elit “Nea vee Altina” telah merekomendasikan “Willem Ainsworth” untuk menjadi murid di Akademi Sihir Altheria.

            *Dengan wewenang kepala sekolah dan pemegang kursi ke 7 “Nea vee Altina” menerima murid baru Akademi Sihir Altheria generasi ke 310 bernama “Willem Ainsworth” telah resmi menjadi murid di Akademi Sihir Altheria.

            *Dia “Willem Ainsworth” akan ditempatkan di kelas 1 dan akan mengikuti pelajaran yang ditentukan.

            *Murid yang direkomendasikan wajib mengikuti peraturan tertulis di Akademi Sihir Altheria dan jika murid melanggar peraturan yang tertulis, maka ia akan dihukum sesuai peraturan yang ada ( Peraturan dapat berubah jika ada negosiasi dari kepala sekolah atau keputusan 10 Penyihir Elit).

            *Untuk peraturan akan dibahas saat sudah mencapai tingkat C.

                        Cap “Kepala Sekolah Akademi Sihir Altheria Felycia de Lilith”

“I-ini …, ini adalah  ….”

Willem terkejut sampai-sampai seluruh tubuhnya membeku, ia memang terkejut dengan nama belakangnya. Tapi, ia lebih terkejut dengan pemegang kursi ke 7 yang sudah ia kenali.

“Nea …, adalah salah satu Sepuluh Penyihir Elit?!”


Part 2 dari bab 2 ini akan menceritakan adegan aksinya, dan soal ilustrasi, ilustrasil bab 1 sebenarnya sudah selesai, dan ilustrasi bab 3 sudah selesai juga.

Nanti saya akan upload setelah bab 2 selesai, ahh ngomong-ngomong terima kasih bagi yang telah membaca karya saya, kritik dan saran boleh diutarakan.

Comments