Lika liku Kehidupan Hikikomori part 5: Pada Akhirnya Aku Hanyalah Orang Gagal [END]

151

Ah kuso, here we go again. Ini cerita tentang apalagi yak? Terakhir bahas soal apaan?

Kalau gua g salah ingat bahas game honkai impact 3 ya, jadi ya gitu deh.

Setelah semua pengalaman pekerjaan gua yang gak terlalu menyenangkan, akhirnya gua pun menjadi madao, nganggur tanpa pekerjaan dan cuma berselancar di dunia maya.

Hikikomori? Apaan sebutan yang terdengar keren itu, konyol sekali. Kenyataannya itu bukanlah hal yang sekeren namanya. Tapi emang sih kelamaan di rumah bikin kita malah semakin takut untuk kembali ke dunia luar.

Berat banget rasanya, beneran dah, apaan coba, padahal rasanya cuma kiasan di anime atau movie, tapi dunia luar itu beneran menyeramkan!!

Dipenuhi dengan orang-orang yang mungkin bisa mencelamu tanpa beban, bos yang kejam, teman kerja yang bukan teman, mereka memuakkan, ah sialan.

Gua malah ngetik apa yang ada dipikiran gua, kuso kuso kuso kuso kuso kuso…

Kalau dipikir lagi, apa gua bakal selamanya kayak gini ya? Gimana jadinya gua diumur 40 tahun nanti? Apa masih jadi orang gagal seperti ini? Jika orang sukses membagikan cerita kesuksesannya dan menjadi populer, akankah orang gagal membagikan cerita kegagalannya?

Itu rada menakutkan sih, ah malah overthinking, but i just can’t stop myself to think like that, damn it…

Ah, kita balik ke cerita ini deh.. Tapi sebenarnya gak ada lagi yang bisa gua ceritain, awalnya emang berniat nyelesain di part 6 atau 7, tapi sepertinya udah gak diperlukan.

Lika liku Kehidupan Hikikomori nya ditutup di part 5 ini aja, yak walau mungkin nextnya gua bakal nulis dan bahas sesuatu yang lebih kurang sejenis di web ini.

Well, sebenarnya menutup cerita kayak gini rasanya awkward sih, tapi ntah motivasi gua yang hilang, atau merasa aneh sendiri, atau mungkin keduanya, yah entahlah, bisa jadi keduanya?

Menulis cerita udah kek orang mabuk dengan pembawaan yang gak jelas, bahkan sampai bikin gua mikir lagi saat baca tulisan ini, “Ini apaan sih?”.

Mungkin kalian yang baca ngerasa hal yang sama juga kali ya, cuma ya harap dimaklumi aja deh, huhuhuhu..

Yosh, kesimpulannya hikikomori itu bukan sesuatu kebanggaan, bahkan bagi kaum wibu sendiri, melainkan rasanya orang lain ngelihat kita udah kayak sampah, neet, pengangguran yang nggak punya tempat di masyarakat. Berharap kembali ke dunia luar, tapi rasanya juga udah nggak nyaman, seakan, setelah kembali ke dunia masyarakat, lalu selanjutnya apa?

Dunia luar itu menakutkan, begitulah yang gua rasakan saat berada di luar akhir-akhir ini, kita melihat orang-orang yang sama dengan perasaaan berbeda, rasa ada sesuatu yang menahan kita untuk berinteraksi lebih jauh dengan mereka.

Dan gua sendiri, bahkan gua gak tau apa jawaban yang benar dari permasalahan yang gua hadapin. Rasanya mungkin gua cuma mengerti kenapa di dunia ini, ada banyak orang yang memilih mengakhiri hidup mereka.

Karena emang hidup itu berat banget, terutama bagi yang gak punya support dari keluarga.

Semakin dewasa kita, semakin merepotkan dan semakin berat kehidupan, bahkan nonton anime dan main game saja nggak cukup buat ngilangin tekanan stresnya, belum lagi terror dari overthinking yang nggak diharepin tapi mendadak muncul aja dipikiran, beneran menyebalkan…

Jadi yak, bagi kalian yang belum terjerumus ke fase orang gagal, sebaiknya kalian lebih memikirkan lagi dalam mengambil keputusan yang berdampak besar bagi kehidupan, cari hal yang benar-benar kalian kuasai agar bisa digunakan di dunia kerja nanti.

Dunia setelah SMA itu beneran nggak ramah, kalau keluarga masih mampu lebih baik kuliah sih, karena menurut gua modal SMK saja juga belum tentu bisa berguna, tapi mungkin bakal beda cerita kalau emang dari manusianya udah rajin dan berdedikasi tinggi ya, dan punya aura orang sukses, bukan orang gagal.

Orang gagal kek gua malah sok bijak ngasi advice ya, harusnya gua ngaca dulu, wkwkwkwkwk

Weslah, pada akhirnya gua tutup cerita Lika Liku Hikikomori sampai disini, terima kasih udah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini dengan segala keanehan penulisannya <(“)

Comments