Raja Iblis Menjadi Seorang NEET! – (Maou wa Nitto (NEET) ni Natta!)

314

Raja Iblis Menjadi Seorang NEET! – (Maou wa Nitto (NEET) ni Natta!) Adalah Web Novel ber-genre Isekai Komedi, dan ini adalah projek kedua saya.


Raja Iblis Menjadi Seorang NEET

Prologue

Hari itu.

Setelah terbangun dari tidurku, aku tidak berniat untuk untuk bangun dari kasur yang sangat empuk ini.

Tidak, lebih tepatnya aku tidak bisa.

Karena tepat di sampingku, seorang pria menindih lengan kananku.

Tunggu, biarkan aku mencerna apa yang terjadi.

Aku bukanlah tipe perempuan yang akan tiba-tiba panik dan berteriak saat berada di situasi semacam ini, jadi setelah berpikir sejenak dan menyimpulkan.

Ahh, si NEET tidak berguna itu.

Ngomong-ngomong, kenapa aku bisa berada di situasi semacam ini?

Sebenarnya aku juga tidak memiliki ingatan apa pun tentang apa yang terjadi kepadaku. Tapi, mungkin si NEET tidak berguna ini tahu apa yang terjadi.

“Ahnn, Hyaryunya-tan~”

“Kyaa~!”

Ini tidak bisa lebih baik lagi, ‘kan?

Apa ini? Kenapa dia mengigaukan waifu-nya sambil memeluk gadis suci di sampingnya yaitu diriku?

Ahh, biarkan aku memikirkan apa yang terjadi sebelumnya.

* * *

… Itu adalah hari yang seharusnya cerah dan dipenuhi suara berisik orang-orang di jalanan kota, terutama untuk diriku.

Ini terjadi sehari setelah gempa besar yang melanda wilayah Kantō, dan entah bagaimana pusatnya berada di Tokyo ini.

Berkat itu, Tokyo mengalami kerusakan parah hingga merusak struktur kota. Ajaibnya tidak ada korban jiwa saat gempa itu terjadi, yah walaupun begitu, gempa itu membuat tempat di mana aku bekerja hancur dan memaksa seluruh pekerja lembur untuk membereskan kekacauan ini.

Dan aku sekarang yang sudah begadang selama dua hari, berjalan menuju apartemenku.

Itu adalah apartemen kecil dengan harga murah dan tetangga yang berisik, tapi untuk sekarang, aku ingin segera sampai ke surga itu.

Setelah menyempatkan diri untuk membeli bentō, ini waktunya untuk pulang dan mengistirahatkan tubuhku. Aku sekarang dalam mood yang benar-benar buruk dan tidak ingin mengurusi hal yang tidak perlu, tapi kali ini …

“Oi! Wanita yang di sana! Kenapa dirimu bisa berjalan dengan tenang di depan diriku?”

Kejadian yang mendadak itu membuatku sedikit bingung.

Di belakangku seseorang yang memanggilku berada di sana.

Jika aku belum pernah bertemu dengan orang-orang “Unik”, aku akan menggapnya dia orang aneh.

Dia cukup tampan jika kau bertanya padaku, dengan penampilan itu bisa dibilang dia terlihat seumuran denganku.

Dia memiliki rambut hitam yang terlihat lurus. Matanya berwarna hitam juga dan sedikit dingin.

Postur tubuhnya tidak terlalu kurus dan mungkin dia memiliki tinggi yang hampir sama denganku, hanya saja dia lebih tinggi mungkin.

Karena aku ada dalam situasi di mana aku tidak ingin mengurusi hal yang merepotkan dengan kesadaran setengah sadar ini, aku mengabaikannya.

Ya, bagaimanapun kau melihatnya, dia adalah orang aneh yang memakai jubah hitam di pertengahan musim panas.

Apa lagi dengan cara dia berbicara, dia berbicara seperti bos di kantorku, dan itu membuatku kesal.

“Hmph! Kenapa makhluk rendahan sepertimu berani mengabaikanku?”

Si pria tampan tadi kembali bersuara dan kali ini dia berada di depanku.

“Ahh, maafkan saya. Jadi, ada yang bisa saya bantu?”

Walaupun kondisi hatiku sedang kesal, tapi aku harus menjaga etikaku sebagai wanita yang ramah, bukan?

“Heh! Baiklah, kumaafkan. Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak takut saat melihat keberadaan tertinggi sepertiku?”

“…?”

Apa yang dia coba katakan?

“Setidaknya kau harus berlutut dan berharap nyawamu akan diampuni oleh diriku, itulah yang seharusnya sejak awal kaulakukan. Tapi biarlah, sekarang berikanlah persembahan yang kau bawa itu kepadaku!”

Apa ini, baru pertama kalinya aku bertemu dengan pria ini. Dia mencoba merampok seorang gadis yang setengah sadar?

Ini mungkin agak kasar untukku, tapi aku merasa ingin memukulnya.

… Tunggu dulu, tenang, aku harus menjaga kehormatanku sebagai wanita.

“… Apa yang coba kaukatakan? Berlutut? Nyawa? Persembahan?”

“Benar. Persembahan. Yang kau bawa di tanganmu itu, itu pasti persembahan, ‘kan? Entah kenapa perutku bersuara saat melihat itu.”

… Hah?

“Bukankah itu artinya kau lapar?”

“Begitu, ya.”

Entah kenapa aku jadi ingin bersimpati kepadanya, jadi aku memberikan bekal itu kepadanya lalu pergi.

Beberapa detik setelah aku pergi menjauh dari pria tadi, aku mendengar suara sesuatu yang melesat di belakangku.

… Itu.

Pria tadi menunduk memperhatikan bekal yang tadi kuberikan.

Dia sama sekali tidak menyadari bayangan besar yang melesat ke arahnya.

Secara refleks aku berlari ke arah pria tadi dan mendorongnya dari sana.

Saat itu aku menyesali 3 hal.

Kenapa aku harus memberikan bekalku padanya?

Kenapa aku harus berlari kepadanya?

Dan kenapa juga aku harus mendorongnya?

Setelah itu ….

“Manusia, bangkitlah atas nama Raja Iblis.”

Di ruangan yang sangat gelap, seseorang duduk di kursi di depanku. Dia terlihat seperti seorang butler.

Pria yang terlihat berusia sekitar dua puluh lima tahun dengan pakaian pria Inggris bersetelan tiga lapis, sehelai jas berekor ganda dan sebuah kacamata tunggal.

Menatapku dengan pandangan intimidasi—tidak, merendahkan mungkin?

“Apa aku sudah mati?”

“Nn. Itu benar. Biarkan aku memastikan satu hal, apa kau Yuna Asuka-chan?”

Aku mengabaikan panggilan “Chan” yang dia berikan dan menjawab dengan mengangguk.

Pria itu tersenyum.

Walaupun dia tersenyum, tapi di balik kacamata tunggalnya menampilkan pandangan mantap dan kuat, seakan sedang mengevaluasi diriku.

“Tatapan yang sangat tidak menyenangkan.”

“Haha. Aku sudah sering dikatakan begitu. Baiklah, apa kau tidak punya pertanyaan lain?”

Aku memikirkan apa yang bisa kuingat.

“Pria yang aku dorong, apa dia selamat?”

Ini benar-benar penting. Aku baru pertama kalinya berusaha menyelamatkan seseorang.

Alis laki-laki itu berdenyut sejenak, lalu mengangguk.

“Nn. Dia masih hidup. Tapi seharusnya kau tidak mendorongnya, karena dengan begitu kau pasti masih hidup.”

Syukurlah ….

Aku bersyukur aku bisa menyelamatkan satu nyawa, walaupun aku tidak mengenal pria yang aku selamatkan.

“Itu sangat merepotkan tahu, kami harus repot-repot mencari naga yang menelan utuh dirimu.”

“… Hah?”

Apa aku tidak salah dengar? Naga?

“Apa yang kaukatakan? Naga? Bukan sebuah benda semacam truk, bus, atau traktor?”

“Benar. Naga. Walaupun benda yang kausebutkan tadi menjadi pengganti naga, tetap saja pria yang kauselamatkan itu masih hidup.”

… Hah?”

“Jadi bagaimana denganku? Aku mati dimakan seekor naga?”

“Tidak, kau mati karena jantungmu berhenti berdetak, terus seekor naga menelanmu. Harusnya kaubisa selamat jika kau bisa menahan syokmu … pu … he … he.”

….

Apa ini, aku berusaha menyelamatkan seorang pria yang tak kukenal dan aku mati karena serangan jantung lalu seekor naga menelanku? Apa-apaan dengan cara mati yang konyol dan tidak masuk akal ini?

“Lalu saat kami menemukan naga yang menelanmu dan membedahnya, kami menemukan tubuhmu yang hampir tercerna—(ngakak).”

“Diam—! Aku tidak mau dengar hal yang mengerikan semacam itu!”

Pria itu berjalan menghampiriku sambil tersenyum aneh dan berbisik kepadaku;

“Saat kau hampir tercerna, tentunya kau tidak berpikir kalau pakaianmu masih utuh, ‘kan? Bahkan salah satu bawahanku berkata, ‘Apa-apaan dengan wanita ini, sangat menyedihkan—(ngakak)’ sambil mereka tertawa.”

“Diam! Diam! Diam! Diam! DIAM!!! Tidak mungkin ini terjadi, kehormatan yang kujaga selama sembilan belas tahun, tidak mungkin hilang hanya karena hal konyol seperti itu!”

Melihatku dengan tanganku yang menutupi telingaku, pria itu berbalik dan bahunya gemetar.

Apa itu, dia menertawaiku?

“Baiklah, aku harus kembali ke pekerjaanku. Ngomong-ngomong Maou-sama ingin bertemu denganmu.”

“Maou-sama?”

“Ya, dia adalah salah satu Raja Iblis terkuat, berbanggalah karena kau mendapat kesempatan untuk menghadapnya.”

“Jadi, aku dibangkitkan kembali hanya untuk bertemu dengan Raja Iblis? Bukan dipanggil ke dunia lain untuk menjadi seorang pahlawan dan menyelamatkan dunia dengan mengalahkan Raja Iblis?”

Pria berjas buntut itu mengangguk.

Aku rasa sekarang aku hanya harus mengikuti apa yang dikatakannya.

Pria berjas buntut itu membuka sebuah gerbang tak terlihat di depannya, dan di hadapanku sekarang sebuah tangga yang dilapisi karpet merah muncul, dan di ujung tangga tersebut terlihat sebuah pintu besar dengan ukiran tulisan yang tak kumengerti.

Si pria berjas buntut itu mempersilahkan diriku untuk pergi dari sana dengan hormat, walaupun dia baru saja memperlihatkan kepribadian buruknya dan melecehkanku.

Ahhh, apa-apaan dengan suasana ini. Kenapa aku harus sangat gugup?

Tiap anak tangga yang kunaiki, napasku menjadi berat karena gugup.

Dan saat ini, aku berada di depan pintu besar itu.

Tarik napas, lalu keluarkan dengan perlahan. Sip, aku siap.

Aku perlahan mendorong pintu besar itu, dan saat pintu itu sedikit terbuka, cahaya putih muncul dari dalam sana.

“Saya Yuna Asuka. Menjawab panggilan Anda.”

Berkata saat setelah selesai mendorong seluruh pintu besar itu, aku melihat sebuah ruangan berdiameter enam tatami, itu membuatku teringat dengan apartemenku.

Di atas tatami tersebut terdapat seseorang pria yang sedang menonton acara anime di TV dengan posisi tidur miring.

Keteganganku sebelumnya menghilang.

Pria itu menoleh ke arahku lalu tiba-tiba menggerakan jarinya miring dan secara tiba-tiba pintu yang telah kubuka tertutup.

Aku pasti salah lihat. Ya, karena tidak mungkin seorang Raja Iblis menonton anime, ‘kan?

Pintu secara ajaib terbuka sendiri, dan kali ini ruangan yang sebelumnya kulihat menghilang, digantikan dengan ruangan luas yang serba gelap dan di depanku terdapat sebuah singgasana dengan pria tadi yang duduk di atasnya.

“Yuna Asuka, selamat datang di neraka. Ini mungkin terdengar aneh, tapi sebenarnya kau sudah mati.”

Seseorang tadi berbicara kepadaku dari singgasananya.

“Ahh, soal itu pelayan tadi sudah menjelaskannya.”

“Tch.”

Aku tidak salah dengar kalau dia baru saja mendecakkan lidahnya, ‘kan?

Ngomong-ngomong, di ruangan ini sangat gelap, aku bahkan tidak bisa melihat wujud seseorang yang berada di depanku itu. Tapi satu hal yang pasti, aku mengenali suara itu entah dari mana.

“Baiklah, langsung saja. Atas permintaan maafku karena menjadi penyebab dirimu mati (walaupun sebenarnya itu salahmu sendiri), aku akan memberikanmu pilihan.”

Permintaan maaf macam apa itu.

“Eh, lalu apa itu?”

“Pertama kaubisa bereinkarnasi ke dunia lain. Kedua kau reinkarnasi di duniamu dan memulai hidup kembali.”

Bereinkarnasi ke dunia lain atau memulai hidup baru ya ….

Pilihan pertama itu membuatku sedikit tertarik.

Tapi menjadi memulai hidup baru kembali, aku benar-benar tidak ingin melakukannya lagi.

Tidak, mungkin ada pilihan lain.

“Hmm …, apa tidak ada tempat semacam surga?”

“Aku tidak bisa.”

“Eh, kenapa?”

“Karena itu merepotkan.”

“Hah?”

“Mengirim seseorang ke surga itu sangat merepotkan tahu? Aku harus menandatangani dokumen-dokumen yang tidak perlu dan mengeluarkan sejumlah uang administrasi yang tidak sedikit.”

Apa-apaan dengan kebijakan imigrasi itu.

“….”

Aku tahu aku sekarang sedang berbicara dengan raja iblis, tapi sekarang aku benar-benar ingin memukulnya.

Melihat ke wajahku yang sedang kecewa, raja iblis itu berdiri dari singgasananya dan berkata:

“Hey, kau tidak perlu pergi ke tempat semacam surga itu bukan? Oh, aku juga tidak menyarankan dirimu untuk memulai hidup baru, karena aku akan segera menginvasi dunia itu, jadi kau pasti tidak mau hidup di dunia yang diinvasi oleh raja iblis, ya kan? Jadi seperti itu lah.”

Kalau begitu kenapa kau memberiku dua pilihan kalau ujung-ujungnya aku dipaksa memilih pilihan pertama.

“Reinkarnasi ke dunia lain ya. Hmm, bolehkah aku bertanya satu hal?”

“Nn. Apa itu?”

Ini penting, untuk memastikan aku tidak mati konyol lagi, aku harus bertanya. Ini adalah hal umum yang sering terjadi di novel dan anime.

“Apa aku mendapatkan hak khusus saat reinkarnasi ke dunia lain, semacam, bakat, senjata, atau kekuatan terkuat?”

Raja iblis itu berhenti melangkahkan kakinya, dan aku tetap tidak bisa melihat wajahnya.

“Em, mungkin itu bukan masalah. Dengan berkah dariku, kau (mungkin) secara acak akan mendapatkan kemampuan yang (mungkin) berguna untuk bertahan hidup di dunia lain. Ini pertama kalinya aku mengirim manusia ke dunia lain, bisa saja eksistensimu terhapus jika kau tidak beruntung … Sekarang, kau hanya perlu memantapkan pilihanmu.”

“Tunggu dulu, kesampingkan kata ‘mungkin’ yang kauucapkan, aku mendengar sesuatu yang sangat penting barusan, apa maksudmu dengan eksistensiku terhapus jika aku tidak beruntung?”

“Apa aku berkata seperti itu?”

“Kau mengatakannya!”

“Aku tidak berkata seperti itu.”

… Orang ini.

Lupakanlah, itu tidak penting lagi, biarkan saja dia.

“Cepatlah~ apa kau tidak punya pendirian? Tidak peduli apa yang kau pilih itu sama saja. Tetap saja kau akan mati pada akhirnya.”

Aku tidak ingin mendengarnya darimu, tahu ….

Bingung, bingung, aku sangat bingung … Aku bahkan belum mendapatkan informasi yang jelas tentang dunia lain. Dan juga, kenapa Raja Iblis bodoh ini ingin menginvasi dunia asalku.

“Baiklah Asuka, bagaimana jika kau bangkit dengan tubuh asli dan ingatanmu di dunia lain? Aku juga akan menjamin kehidupanmu yang damai di sana.”

Itu terdengar sangat bagus.

Sejujurnya, ini adalah sesuatu yang aku paling inginkan. Hidup di dunia lain dengan perlindungan dari raja iblis, ini benar-benar saran yang bagus.

Tapi sebelum itu.

“Em, aku punya pertanyaan. Di dunia lain itu, apa ada semacam sihir? Aku juga penasaran apa aku bisa belajar bahasa di dunia itu?”

“Tentu saja ada. Itu adalah dunia fantasi di mana iblis sedang berusaha menguasai dunia. Kalau soal bahasa itu bukan masalah, saat kau dibangkitkan, aku sudah menanamkan sihir kepadamu agar bisa beradaptasi dengan cepat di dunia itu.”

Sip, itu sudah menjawab semua keraguanku.

Aku tidak peduli lagi dengan cheat, mendapat perlindungan dari raja iblis itu sudah cukup.

Baiklah, aku akan memilih pindah ke dunia lain.

“Ahh, sebelum itu, apa kau tahu sesuatu tentang otaku?”

“A … Apa?”

Aku menjawab dengan suara yang gemetar. Kenapa Raja Iblis ini tertarik dengan hal seperti itu.

Tanpa sadar aku menelan ludahku.

Raja Iblis itu berjalan mendekatiku, dan sekarang aku bisa melihat wajahnya.

“K … Kau.”

Wajah seseorang yang disebut raja iblis itu sudah aku kenali, dia adalah pria aneh yang aku selamatkan.

Begitu ya, begitu. Itulah kenapa kejadian sial ini menimpaku, gempa di Tokyo, orang aneh berjubah, naga, dan pelayan itu.

… Orang ini, menyebabkan aku mati, membuatku kesal, membuatku tidak bisa berisitirahat dengen tenang.

Ahh, biarkan saja. Aku harus menghadapinya dengan kepala dingin. Yang terpenting aku bisa hidup tenang di dunia lain.

Tunggu dulu, bukankah tadi aku melihat orang ini menonton anime? Ini adalah kesempatan emas.

“Ya, aku tahu. Itu adalah jenis orang tidak berguna yang tidak bisa hidup dengan baik di dunia dan melarikan diri ke game atau anime.”

Maafkan aku untuk semua otaku di dunia.

“Begitu ya? Kalau begitu kau juga seseorang yang tidak berguna, ‘kan?”

… Eh?

Entah kenapa aku merasa suaranya seperti mengejekku.

“A … Aku bukan o … otaku. A-Aku sudah memulai hidup baru.”

“Baiklah, aku punya penawaran yang lebih baik lagi dari sebelumnya.”

Entah kenapa aku merasa ragu. Aku ingin tahu, apa yang akan dilakukan Raja Iblis ini untuk merendahkanku lagi.

“Bagaimana jika kau menjalin kontrak denganku? Tentunya kau juga akan mendapat kekuatan yang besar, dan sebagai gantinya ….”

Aku menelan ludahku.

Apa aku harus menjalin kontrak dengan Raja Iblis ini dengan bayaran jiwaku? Itu pasti yang diinginkannya, tidak salah lagi. Aku pernah melihat anime di mana karakternya menjual jiwanya kepada iblis.

Aku tidak berharap dia menjadi pelayanku, jadi mungkin aku harus memilih penawaran sebelumnya.

Tidak, tunggu dulu. Jangan buang kesempatan ini, pertama aku harus mendengarkannya dulu.

“H-Heh … A-Apa yang kauinginkan?”

Aku melipat kedua lenganku di dada dan mengalihkan pandanganku ke arah lain saat berkata.

Raja Iblis itu menunduk dan tersenyum aneh.

“Kau harus menggantikan pekerjaanku sebagai Raja Iblis.”

“Tidak, terima kasih. Aku pilih tawaran sebelumnya.”

Aku menjawab dengan cepat tanpa berpikir apa-apa lagi.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu …,”

Raja Iblis itu tiba-tiba berhenti bicara.

“… Apa yang baru saja kaukatakan?”

Raja Iblis itu mendekat dan menarikku.

“Hei, kenapa kau tidak berpikir lagi? Kau akan mendapat kekuatan besar lho, kau akan mempunyai bawahan yang kuat lho, kau juga akan mendapat kesempatan untuk menguasai dunia lain.”

“Hei berisik, tujuan awal kau memanggilku untuk mengirimku ke dunia lain, ‘kan? Jadi kenapa aku harus mengambil pekerjaan yang aneh itu?”

Aku mendorong kepala Raja Iblis itu untuk menjauh.

“Karena aku bosan tahu, kenapa juga tiap minggu orang yang menganggap dirinya pahlawan datang kepadaku? Apa mereka tidak menghargai privasi? Tiap kali aku mengusir mereka, mereka selalu kembali, tiap minggu, tiap minggu, tiap minggu. Aku bisa gila!”

“Lalu atas dasar alasan apa aku harus menerima tawaranmu itu? Cepatlah pindahkan aku ke dunia lain. Cepatlah~ cepatlah~”

Tiba-tiba Raja Iblis itu diam.

“Kau menyuruhku untuk mengirimmu ke dunia lain? Baiklah, akan kulakukan ….”

“Heh? Apa, apa. Kenapa kau terdengar sangat marah?”

Di bawah kaki Raja Iblis itu yang sedang menundukkan kepalanya, dan di bawah kakiku muncul lingkaran berpola rumit berwarna biru.

Apa ini, Lingkaran sihir?

Apa sekarang aku benar-benar akan pergi ke dunia lain?

“Pu …, he he. Aku sudah muak, aku akan pergi ke dunia lain denganmu. Aku sudah tidak peduli lagi dengan julukan Raja Iblis ini! Aku akan keluar dari pekerjaan bodoh ini, gunakanlah kekuatanku untuk mempermudah petualanganmu, aku tidak peduli lagi!”

Hawa dingin merayap ke punggungku.

Ini adalah situasi yang paling buruk.

“Tunggu, huh. Apa yang kau bilang? Hei, kau tidak serius bukan? Tidak, tidak, tunggu dulu, ini aneh! Terlalu curang untuk membawa raja iblis, ‘kan? Itu tidak dihitung, ‘kan?”

Aku panik dan menarik-narik kerah baju Raja Iblis itu, aku sekarang benar-benar kacau.

“Mohon kerja samanya untuk ke depannya. A-su-ka-san!”

“Tunggu! Tunggu! Aku masih punyak hak untuk memilih bukan? Lupakan kekuatan atau hidup damai, kirim saja aku ke dunia lain. Aku tidak peduli lagi!”

Raja Iblis itu tersenyum kepadaku.

“Sudahlah, ini adalah takdirmu terima saja. Ngomong-ngomong, aku sudah me-reset semua kekuatanku, jadi kau tidak perlu cemas tentang petualanganmu yang mudah. Kau pasti akan mendapatkan kesulitan saat bersamaku.”

Aku memukul Raja Iblis bodoh ini ke lantai, lalu menarik-narik kerah bajunya kembali.

“Kenapa kau melakukan itu bodoh! Tidak~! Itu malah membuatnya makin parah, aku benar-benar tidak ingin pergi ke dunia lain dengan orang sepertimu, tidak mau~!”

“AHAHAHAHAHAHA!!!”

“TIDAK~!”

Dan setelah itu.

Sinar yang terang menyelimuti kami, aku dan Raja Iblis yang sedang meratapi nasib … Pergi ke dunia lain.


Yah, Yuu di sini. Ini adalah projek baru, jadi masih belum ada ilustrasi ataupun fan-art-nya.

Saran dan kritik tulis aja di komentar ya!

Terima kasih, sampai jumpa lagi di Laskar Anime Indonesia!

Comments