Murid-Murid Bermasalah Ingin Membuat Komunitas Bermasalah? – Bab 2

106

Murid-Murid Bermasalah Ingin Membuat Komunitas Bermasalah? – Bab 2 Part 2, dan ini adalah bagian aksinya, kritik dan saran sangat membantu.


Persis seperti yang dijelaskan, di situ tertulis Nea adalah salah satu Sepuluh Penyihir Elit. Sementara Willem tersenyum senang setiap kali ia membaca ulang bagian yang menjelaskan Nea.

Saat itu juga, secarik lipatan kertas keluar dari bawah surat tersebut.

Dan dengan demikian, surat itu selesai ia baca.

Willem memungut secarik kertas tersebut dan setelah itu, ia perlahan-lahan membuka dan membaca isi dari kertas tersebut.

Kau pasti penasaran karena menemukan nama belakangmu, ‘kan? Kau harusnya senang, karena itu adalah nama yang aku berikan padamu setelah berpikir keras. Ngomong-ngomong, temui aku besok, aku punya hal yang harus dibicarakan denganmu.”

                                                                                                          Felycia

Baru ketika ia menyelesaikan membaca surat di tangannya, Willem merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Walaupun ia tidak tahu arah ataupun siapa yang memperhatikannya sehingga Willem tidak menanggapi tatapan tersebut dan memasukkan surat ke saku celananya.

Setelah itu, Willem memutuskan untuk segera pergi ke kelas 1 yang sudah dijelaskan di surat dengan langkah cepat. Setelah beberapa kali melewati lorong yang nampak sama, Willem sampai di depan pintu geser yang di atasnya terdapat nama kelas tersebut.

Menghela nafas sejenak, Willem menggeser pintu dan pada saat yang bersamaan berujar dengan menambahkan sedikit semangat ke dalamnya:

“Permisi!”

Pada saat Willem selesai menggeser pintu, Willem langsung menerima pandangan dari semua murid yang ada di kelas. Sepertinya Willem datang terlalu pagi, karena Willem hanya dapat melihat 5 orang murid saja.

Willem segera mengernyitkan alisnya bingung selagi berjalan memasuki kelas dan duduk di meja paling depan. Salah satu murid laki-laki tiba-tiba berjalan mendekati Willem dan menyapanya lalu bertanya dengan senyuman ramah:

“Halo! Namaku Julian Gaspard, apa kau juga murid baru?”

 … Juga? Itu berarti  ….

“Ya.”

“Heh  ….”

Mata murid laki-laki itu terlihat menganalisis Willem, itu seperti dia sedang membanding-bandingkan Willem dengan dirinya.

Seakan telah menyakinkan dirinya sendiri, laki-laki itu menyunggingkan senyum tipis sambil berjalan menjauhi Willem.

Akan tetapi Willem tidak menunjukkan reaksi apa-apa.

—Beberapa menit telah berlalu, datanglah seorang pria yang membawa beberapa buku di tangannya memasuki ruangan kelas setelah menggeser pintu dan berhenti di depan papan tulis.

“Selamat pagi, namaku Ren van Regret. Aku adalah guru yang akan mengukur dan menilai kalian. Jika ada pertanyaan, naikkan tangan kalian lalu berdiri dan sebutkan namamu.”

Ren menyimpan bukunya di atas meja di depan papan tulis, dan pada saat yang sama Willem mengacungkan tangannya ke atas.

“Ya?”

Berdiri di tempat yang sama, Willem berkata dengan nada kasual sambil sesekali melihat murid lainnya:

“Namaku Willem Ainsworth. Sebenarnya aku sudah mengerti setengah situasinya, tapi, apa maksud Anda dengan mengukur dan menilai?”

“Oh, kamu adalah murid yang direkomendasikan itu ya. Yah, di sini aku akan mengetes kapasitas mana dan pengetesan penggunaan sihir elemen dan non elemen.”

Willem sedikit lebih mengerti dengan situasinya, ia hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali duduk selagi melihat murid pindahan lainnya yang terdiri dari dua orang perempuan dan empat orang laki-laki termasuk dirinya.

“Yah, walaupun tadinya aku diperintah begitu, tapi. Aku akan membuatnya lebih menyenangkan, langsung saja ke intinya.”

Mengambil sebuah kertas yang ada di baik buku, Ren menyunggingkan senyum miring selagi berkata:

“Aku akan mengkelompokkan kalian secara acak, dan aku akan menjeleskannya lebih lanjut setelah itu.

Pertama: Fransesca Farelia dan Julian Gaspard akan menjadi Tim Satu.

Mikoto Kuroshita Ayatsuji dan Willem Ainsworth akan menjadi Tim Dua.

Nell von Arcadia dan William du Arcadia akan menjadi Tim Tiga. Hmm, mungkin ini sudah cukup, aku akan menjelaskan peraturannya.”

Ren menyimpan kembali kertas tadi ke atas buku, sementara Willem melirik kiri dan kanan untuk mencari seseorang yang bernama Mikoto Kuroshita Ayatsuji tadi sebelum seorang gadis mendekatinya.

Tingginya kurang lebih sama dengan Nea, kepala dengan rambut hitam pendek itu dikuncir kuda dengan pita kelinci merah muda . Mengenakan pakaian Akademi Altheria yang sama seperti Nea pakai kemarin.

Matanya yang berwarna sama dengan rambutnya mengamati Willem ketika berjalan mendekatinya, gadis itu tersenyum dan berkata kepada Wilem, “Kamu Willem Ainsworth, ‘kan? Namaku Mikoto Kuroshita Ayatsuji. Aku adalah murid pindahan dari Akademi Sihir Suvia, salam kenal.”

“Nm, benar. Kau bisa memanggilku Willem.”

“Nah, Aku akan menjelaskan permainannya. Aku sudah menyembunyikan beberapa artefak sihir sebelumnya. Kalian yang telah dibagi menjadi tiga tim harus menemukan artefak sihir itu. Masing-masing artefak sihir itu bernilai satu, jadi hanya yang pertama kali yang mendapatkannya yang akan resmi menjadi murid di sini. Jadi jika salah satu dari kalian yang tidak mendapatkan artefak sihir itu akan langsung dikeluarkan dari Akademi Sihir Altheria, jadi pikikanlah baik-baik siapa diantara kalian yang cocok untuk menjadi murid di Akademi ini.”

Ren merentangkan tangannya ketika ia memberikan pernyataan dramatis kepada murid pindahan. Sementara Mikoto dan lainnya memperhatikan satu sama lain, dan berbeda dengan Willem yang masih memperhatikan Ren.

“Aku akan memberi tahu tiga artefak sihir itu, yang pertama ada di atas pohon di sebelah barat gedung sekolah, sementara yang kedua ada di menara jam, dan yang ketiga berada di taman sekolah.  Kalian mempunyai waktu 5 menit untuk mennemukan artefak sihir itu dan dimulai sekarang!”

Pada saat itu juga, para murid langsung berpencar menuju tempat yang dikatakan Ren. Kecuali Willem yang masih berdiri diam di tempat dan hanya melihat Ren.

Mikoto yang tampaknya menyadari Willem yang tidak bergerak dari tempatnya menoleh kebelakang dan berujar:

“Apa yang kamu lakukan?!”

“Tidak apa-apa, kau bisa pergi dahulu. Aku akan di sini sebentar lagi.”

Mikoto mengernyitkan alisnya bingung dan ia memilih untuk menunggu Willem dengan berkata:

“Tidak, kita ini satu tim. Aku akan menunggumu.”

“Terserah kau saja, ngomong-ngomong Pak Ren. Apakah itu akan baik-baik saja?”

Willem berujar sambil tersenyum miris melihat Ren yang memasang ekspresi sedikit bingung.

“Kamu bisa memanggilku senior jika kamu mau, maaf soal ini tapi aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan?”

Ren membalas senyuman miris Willem dengan senyuman ringan.

“Baiklah, jadi Senior. Maksudku, apa kau baik-baik saja dengan penjelasan yang kau berikan? Bukankah ‘permainan’ yang kau buat ini terlalu bersifat luas?”

Ren tidak menyangkalnya, tapi hanya menganggukkan kepalanya saat ia membalas, “Jadi?”

“Jadi, kenapa kau tidak membuat satu pun peraturan yang lain? Di permainan ini kau bisa menyerang teman timmu sendiri, atau melakukan hal-hal yang merepotkan lainnya. Ahh, aku tidak bermaksud untuk mempertanyakan pertanggungjawabanmu sebagai guru. Jadi—“

“Ahh, aku mengerti. Jadi, intinya?”

Mereka sama-sama menyunggingkan segaris senyum miris. Willem perlahan berjalan mendekati Ren.

Menyipitkan matanya, Willem mencoba mengintimidasi Ren.

“Intinya, apa aku boleh bertanya di mana artefak sihir lainnya, Senior?”

Ren tertawa ketika mendengar pertanyaan Willem, tapi itu bukanlah pertanyaan yang buruk yang membuat orang-orang tertawa.

“Bagus sekali, kamu sangat menarik Willem Ainsworth. Kenapa kau bisa tahu aku bukan hanya menyembunyikan tiga artefak?”

“Bukankah itu sudah jelas? Aku yakin bukan hanya aku saja yang menyadari ini. Kuncinya saat kau menyebutkan tempat-tempat artefak itu berada, ‘kesatu, kedua, dan ketiga.’ Alih-alih berkata terakhir, kau malah berkata ‘ketiga’.”

“Yah, sebagai guru aku akan memberitahu semua letak artefak itu—“

Willem menggelengkan kepalanya lalu melihat Mikoto yang memasang ekspresi terkejut, daripada terkejut ia lebih terlihat memasang ekspresi kagum.

“Tidak perlu, aku hanya ingin tahu satu tempat saja.”

Ren menaikkan alisnya bingung sementara mendesah pelan.

“Baiklah, artefak sihir yang keempat berada di aula.”

“Kau dengar itu? Mikura?”

“Eh? Maksudmu, aku harus mencari artefak sihir itu?”

“Benar, anggap saja sebagai hadiah pertemanan untukmu.”

Willem menganggukkan kepalanya selagi menyunggingkan senyum ringan.

“Lantas, apa yang akan kamu lakukan Willem?”

“Jangan pikirkan aku, cepat pergi.”

“Baiklah, terima kasih banyak! Aku akan mencari artefak lainnya untukmu.”

Mikoto segera bergegas menuju aula setelah menundukkan kepalanya berterima kasih kepada Willem.

Willem yang masih berdiri kembali mengalihkan pandangannya ke Ren dan mendesah murung.

“Aku tidak menyangka kamu sejahat itu.”

“Huh? Apa maksudmu Senior?”

“Kau berencana merebut artefak itu saat ia kembali ke sini, ‘kan?”

“TIDAK, lagi pula kau sudah mengatakkan kalau yang pertama kali yang mendapatkannya  yang mendapat poin.”

Willem membalas dengan cepat, hingga membuat Ren membalalakkan matanya terkejut.

“Jujur, di permainan ini. Akulah yang paling dirugikan, itu karena aku bahkan tidak mengetahui apa itu ‘artefak sihir’ yang kau bicarakan. Tapi, jika aku boleh menyimpulkan, apa …, bentuk ‘artefak sihir’ itu, seperti ini?”

Willem menunjukkan sebuah kristal ungu kepada Ren. Kristal itu berbentuk seperti salah satu lambang dari Dua Belas Zodiak.

Ren terlihat terkejut.

Ia mungkin tidak menduga bahwa artefak sihir yang ia sembunyikan kini berada di tangan Willem.

“Di mana kau menemukannya?”

Ren bertanya sambil menambahkan sedikit keseriusannya.

“Benarkah? Kalau begitu aku kebetulan menemukannya di kursi yang aku duduki tadi, tadinya aku ingin menanyakan benda apa ini kepadamu Senior. Tapi saat kau membuat permainan ini, aku menjadi sedikit yakin kalau ini artefak yang kau maksud. Aku beruntung sekali ya.”

“Ya ampun,.Sepertinya aku terlalu meremehkan murid pindahan generasi sekarang, aku pasti akan mendapat teguran lagi dari wakil kepala sekolah, ahh ini pasti akan merepotkan.”

Ren terlihat seperti seorang yang mengalami depresi, sementara Willem memandang bingung guru yang ada di hadapannya.

“Sepertinya memang begitu, terutama ‘permainan’ yang kau buat ini terlalu banyak celah Senior, tapi aku bersyukur karena jika terlalu sulit mungkin aku sudah gagal, ahaha.”

“Benar juga, lain kali aku akan membuat permainan yang lebih sulit lagi, maka dari itu Willem, apa kau mau menjadi pesertanya?”

Ren menyunggingkan senyum ringan setelah bangkit dari depresinya, Willem menaikkan ujung bibirnya membentuk senyuman miring, lalu menjawab.

“Ya, tentu saja, Senior!”

Beberapa saat setelah Ren bangkit dari depresinya, suara seorang wanita yang tidak kenal terdengar di sampingnya.

“Wah, ternyata di sini ada si pemalas, tidak berguna, dan kurang ajar.”

Alis Willem berdenyut ketika mendengar suara wanita yang secara terang-terangan mengolok-ngoloknya, dan pada saat yang sama gumpalan kabut seperti awan gelap muncul di atas Willem dan secara tiba-tiba intensitasnya berubah menjadi hujan yang deras.

“Oh, sepertinya kau sedang sial ya? Terkena hujan di ruangan tertutup seperti ini.”

Willem menundukkan kepalanya merasakan air hujan yang perlahan merembes ke dalam jas sekolahnya dan itu adalah perasaan mengerikan yang sangat buruk hingga berendam ke dalam kolam jauh lebih baik daripada ini.

“Wah, wah. Terima kasih atas salam perkenalan yang sangat mengagumkan ini,”

Willem memberikan segaris senyum miring dan menyisir rambutnya ke belakang selagi melanjutkan, “Seperti yang kau katakan, aku si pemalas, tidak berguna, dan kurang ajar. Aku juga selalu sial, mesum, dan kasar. Aku adalah contoh lelaki paling tidak baik di sini, jadi kusarankan kau berpikir terlebih dahulu saat mendekatiku, Nona.”

Tanpa bertanya sekalipun Willem akan tahu siapa dia, itu karena dia adalah salah satu wanita yang tersisa. Dia sudah pasti adalah Fransesca Farelia.

Rambut panjangnya  yang pirang terurai lurus di punggungnya yang langsing,  matanya berwarna hijau limau yang sekaligus memberikan kesan “Nona” saat bertatapan dengannya. Pakaiannya sangat kontras dengan pakaian yang dikenakan murid Akademi Sihir Altheria, mengenakan gaun jenis Ball Glown yang menonjolkan bagian-bagian tubuhnya tampak sangat cocok dipakai Fransesca.

“B-baiklah, aku akan memikirkan itu jika akan mendekatimu, hmph.”

Fransesca memalingkan wajahnya dengan tidak senang sembari berjalan menuju meja dan duduk di atasnya, dan pada saat yang bersamaan juga awan yang berada di atas Willem menghilang dengan ajaib.

Menggelengkan kepalannya untuk menyingkirkan air yang menempel di kepalanya, Willem melihat ke luar jendela yang tepat ada di sampingnya, di luar sana hujan masih turun dengan deras dan masih belum memberikan tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat.

“Ngomong-ngomong, Senior. Berapa waktu lagi sebelum waktu permainan ini habis?”

Ren memeriksa jam tangannya untuk memastikan waktu.

“Satu menit lagi aku rasa.”

Tadinya terpikir untuk Willem pergi keluar mencari teman satu timnya. Willem mengenyahkan ide tersebut setelah mempertimbangkan baik-baik ketika ia melihat bahwa tidak ada gunanya untuk melakukan hal itu.

Karena begitu ia memikirkan ide itu, gadis yang disebut Mikura oleh Willem kembali dengan napas yang terengah-engah dan baju yang sudah sangat basah.

“Maaf, Willem. Aku tidak bisa menemukan artefak sihir yang lain.”

Melihat pemandangan itu, Willem menyunggingkan senyum nakal sementara meletakkan lengannya di dadanya selagi tangannya menyentuh dagunya seperti meniilai sesuatu.

“Oh, sepertinya aku mendapat servis nih.”

“・・・Ya?”

Mikoto menelengkan kepalannya sambil mengernyitkan alisnya bingung ketika Willem melihatnya dengan pandangan nakal..

“Memang benar tadi aku tidak mendapat servis apa-apa ketika nona besar datang, tapi melihat pakaian basah Mikura yang hampir tembus pandang memang menggairahkan, tapi itu tidak bernilai lagi ketika meihat tetesan air dari rambut kuncirnya yang basah jatuh ke tubuh langsing Mikura dan mengalir dengan alami dari bahu ke punggungnya lalu—“

*Zrasshhh*

Perkataan Willem terhenti ketika gumpalan awan gelap kembali menurunkan air ke tubuhnya, dan si pelaku berucap dengan wajah yang sedikit memerah:

“Sepertinya memang benar kau adalah seseorang yang mesum.”

Mendengar itu Willem membalikkan badannya menghadap Fransesca lalu menaikkan bahunya dan menjawab dengan suara kasual:

“Tentu saja.”

Awan itu kembali menghilang bersamaan dengan Fransesca yang memalingkan wajahnya ke arah lain.

Menjadi seseorang yang dilecehkan, Mikoto memasang ekspresi datar selagi berjalan pelan mendekati Willem.

*Hachi!*

Seseorang baru saja mengeluarkan suara imut dari samping Willem, mendengar itu Willem mengalihkan pandangannya ke pemilik asal suara tersebut.

“Eh, ada apa Mikura? Kau masuk angin?”

“…  Iya.”

Wajah Mikoto sangat merah seperti apel merah cerah karena malu, dan suara yang ia keluarkan sangat pelan sehingga hampir tidak terdengar oleh Willem.

“Senior, apakah ada handuk atau semacamnya?”

“Tentu saja ada, aku sudah menduga hal ini.”

Ren menjetikkan jarinya lalu sehelai handuk tiba-tiba muncul di tengah udara yang kosong tepat di atas Mikoto dan jatuh di atas kepalanya.

“Tunggu dulu Senior, kenapa hanya satu?”

Willem berkata dengan ekspresi dan nada protes sambil melirik Ren.

“Aku hanya punya satu, lagi pula kamu tidak membutuhkan itu kan?”

Sementara mereka saling mengobrol, di sisi lain ruangan dua orang peserta lainnya telah memasuki kelas, akan tetapi seragam yang mereka kenakan sangat kotor oleh lumpur. Itu seperti mereka baru saja mengalami pertarungan ringan, mereka adalah Nell von Arcadia dan William du Arcadia.

Berjalan memasuki kelas dengan ekspresi kesal dan berjalan saling berjauhan, mereka berdua seperti baru saja selesai berkelahi. Itulah yang Willem pikirkan.

Walaupun mereka memiliki nama keluarga yang sama, akan tetapi bila dilihat dengan cermat mereka sama sekali tidak mirip secara fisik. Itu karena perbedaan warna mata dan rambut mereka.

“Nell, seharusnya tadi kau tidak melakukan hal yang tidak perlu.”

Sementara berkata, laki-laki berambut emas itu menepuk-nepuk pundaknya untuk menyingkirkan lumpur di seragam miliknya dengan suara dingin dan ekspresi yang datar.

“Maaf tentang itu kakak. Tapi itu tidak akan terjadi jika kau mengalah terlebih dahulu.”

Laki-laki berambut abu-abu itu menyanggah tuduhan kakaknya sambil sesekali pandangan matanya mengarah ke Willem dan lainnya.

Sang kakak adalah William, rambutnya yang tertata rapih berwarna kuning keemasan, tingginya sekitar 170cm, dan di bawah matanya yang berwarna keemassan tampak tahi lalat kecil yang sangat seksi, membuat para perempuan mengangguminya.

Sementara si adik, Nell,  berambut abu-abu dengan warna mata sebiru lautan, tingginya sama dengan William, berbeda dengan si kakak, matanya agak sipit dan memberikan kesan keren daripada dingin.

Mendengar percakapan mereka sampai saat ini, para murid baru lainnya mengalihkan pandangannya ke William dan Nell. Bagaimanapun, sekarang waktu yang sudah diberikan Ren sudah habis.

Ren kemudian mengulurkan tangannya dan menepukkan tangan.

Kemudian, ruangan tersebut dengan segera dipenuhi cahaya, dan lima buah pin platina muncul ketika cahaya tersebut menghilang.

Willem dan murid lainnya mengambil masing-masing pin dari udara, dan mengalihkan pandangan mereka ke Ren yang menyunggingkan senyum ringan. Ketika Willem dan murid lainnya melihat pin platina yang mereka dapatkan dengan segera mereka mengernyitkan alisnya bingung.

Mikoto, dan Nell mendapatkan pin berbentuk segi lima. Sedangkan Fransesca dan William mendapatkan pin segi enam. Akan tetapi, berbeda dengan yang lainnya Willem mendapatkan pin yang berbentuk lingkaran.

Berniat menghilangkan rasa kebingungan dari muridnya, Ren dengan sengaja batuk sebelum memulai penjelasannya.

“Saat kalian sudah menerima pin itu, kalian sudah menyetujui peraturan tertulis di Akademi Sihir Altheria. Juga pin yang kalian terima mempunyai arti masing-masing. Mungkin kalian sudah mengetahui, akademi memberikan rank atau nilai dari C sampai SS. Untuk pin segi lima, itu artinya kalian mendapat rank B. Begitupun dengan pin segi enam yang mengklasifikasikan kalian sebagai rank A. Mungkin kalian akan bertanya kenapa aku memberikan nilai kepada kalian tanpa tahu kemampuan sihir kalian? Jawabannya tentu saja tidak. Saat kalian mencari artefak sihir yang aku sembunyikan, aku telah mengirim lima familiar ke lima titik pada area tempat aku menyembunyikan artefak sihir. Sehingga aku bisa menilai sekilas kemampuan kalian,”

“Tanya.”

Willem menaikkan tangannya ketika bertanya.

“Ya?”

“Kenapa pin yang aku dapatkan berbentuk lingkaran?”

“Bukankah itu hebat? Kamu mendapatkan pin yang sangat langka. Aku rasa di akademi ini hanya ada tiga orang saja.”

“Apa?”

“Artinya, kamu menjadi murid bermasalah keempat di Akademi Sihir Altheria ini. Tolong jangan berpikir buruk terlebih dahulu kepadaku, aku memutuskan ini setelah mendapat persetujuan dari Kepala Sekolah Felycia.”

Willem mengernyitkan alisnya bingung dan sekali lagi melihat pin platina di tangannya.

“Tiba-tiba mendapat julukan Murid Bermasalah saat hari pertama sekolah, itu benar-benar sangat mengejutkan.”

“Yah, kamu bisa bertanya ke Kepala Sekolah Felycia jika ingin mengetahui alasan kamu mendapat julukan ‘Murid Bermasalah’ itu.”

“Baiklah.”

“Jika tidak ada pertanyaan lain, aku akan melanjutkannya lagi. Jika kalian tidak puas dengan rank yang kalian dapatkan. Kalian bisa menaikkan rank kalian dengan cara mengikuti Game-Game yang diadakan oleh murid sampai akademi. Setiap Game diadakan, akademi akan menyiapkan stage untuk tujuan tersebut. Ada berbagai chip yang dapat kalian taruhkan. Uang, area, sumber daya, martabat, dan orang. Semakin tinggi nilai chip yang kalian pertaruhkan, semakin besar poin untuk meningkatkan rank yang kalian dapatkan. Tentu saja jika kalian menang, kalian berhak mendapatkan apa yang ditaruhkan. Namun, untuk mendapatkan hadiah, kalian harus memenuhi syarat yang penyelenggara atau Host Master berikan, dan memenangkan Gamenya. Jika kalian ingin, kalian juga dapat menyelenggarakan Game selama kalian bisa menyiapkan hadiah. Ada juga tingkat permainan berkisar dari berbahaya, sulit, dan mengancam nyawa di tiap tingkatannya. Dan ada juga tingkatan dan jenis permainan lainnya! Mungkin kalian sudah sedikit mengerti alasan aku membuat permainan tadi, jadi  ….”

Sembari menjelaskan Ren menjentikkan jarinya, lalu dari udara tipis muncul lima gulungan kertas yang masing-masing muncul di depan para murid baru. Melebarkan lengannya sambil tersenyum tipis, Ren menyatakan dengan semangat.

“Dengan ini, Upacara Penerimaan Murid Baru telah selesai. Selamat datang di Akademi Sihir Altheria!”

Willem mendesah pelan ketika mendengar pernyataan akhir dari acara ini. Setelah itu Ren meminta kembali masing-masing artefak sihir ke para murid lalu menyuruh mereka untuk kembali ke rumah masing-masing.

Melipat kertas yang baru saja mereka terima dan memasukkanya ke saku tanpa membaca isinya.

Dengan itu, para murid baru berjalan ke luar ruangan dimulai oleh Fransescaa lalu diikuti Nell dan William.

Merasakan seseorang mengikutinya di belakang, Willem menoleh ke belakangnya dan melihat Mikoto yang masih berdiri diam dengan handuk di pundaknya.

Kemudian Mikoto berjalan mendekati Willem dan menaikkan pandangannya sembari berkata dengan senyuman tipis.

“Terima kasih banyak Willem.”

“Emm, sama-sama. Apa kau mau berjalan keluar area gedung sekolah bersamaku?”

“Nmm! Ngomong-ngomong Willem.”

“Hmm?”

“Kenapa kamu memanggilku Mikura?”

Sambil berjalan, Mikoto bertanya dengan wajah penasaran.

“Ahhh, namamu terlalu panjang, itu sangat merepotkan. Jadi aku menyingkatnya dari Mikoto Kuroshita Ayatsuji menjadi Mikura. Apa kau keberatan?”

“Tidak juga.”

Mikoto menggelengkan kepalanya dengan semangat dan menjawab dengan ceria. Melihat hal itu, Willem tersenyum dan saat berikutnya, langit sudah kembali cerah dan intensitas matahari mulai kembali naik, mereka sampai di gerbang sekolah. Mengucapkan salam perpisahan, mereka berdua berjalan berlawanan arah.

Setelah pergi melihat beberapa area sekolah dan barisan pohon-pohon yang mirip bunga sakura, Willem memutuskan untuk segera pulang karena mungkin Ethel akan merasa sepi karena tidak ada teman bicara. Di sepanjang jalan ia harus melewati beberapa bangunan-bangunan tua yang mungkin sebentar lagi akan menjadi tumpukkan reruntuhan karena termakan usia.

Selanjutnya, Willem menemukan bahwa di area yang terbengkalai ini terdapat pemandangan dari tanah sewarna coklat gelap karena basah yang sangat luas terhampar di hadapannya.

Hanya dengan melihatnya saja Willem dapat membayangkan membangun pertanian di sini, tapi ketika Willem menekuk lutut dan berjongkok untuk menekankan tangannya dan menyentuh lapisan tanah yang baru mengalami sebagian pelapukan bebatuan menjadi tanah tersebut, dan tidak bisa digali begitu saja dengan tangan. Willem mendesah kecewa,

Tapi kalau bidang tanah ini mengalami proses biologis dan faktor lingkungan cocok, tidaklah tidak mungkin kalau area ini bisa menjadi tempat pertanian yang layak.

Tepat ketika Willem akan melihat-lihat sekitar dengan niat untuk berjalan-jalan, suara ledakan keras terdengar di belakangnya sehingga membuat Willem menaikkan kewaspadaannya.

Dari jarak yang lumayan dekat terlihat kabut asap dari area reruntuhan, Willem berlari melewati kerimbunan pohon serta rumput-rumput liar yang ada di area belakang.

Baru ketika ia berhasil sampai di area reruntuhan tersebut, ia dapat melihat seorang laki-laki yang sudah tidak asing lagi. Rambutnya pirang agak berantakan, di bawah alisnya yang tipis terdapat mata mengilat yang sedingin es.

“Oi, Kak Neil! Apa yang sedang kaulakukan?”

Mendengar seruan dari seseorang yang memanggil namanya, mata Neil menoleh ke Willem dengan tajam. Akan tetapi, pandangan itu cepat-cepat ia hilangkan digantikan dengan senyuman dan sapaan ceria.

“Oh, Willem ya?”

Bejalan mendekati Neil selagi melihat sekeliling, Willem berhenti agak jauh dari Neil dan bertanya:

“Ngomong-ngomong, kenapa area ini benar-benar menjadi reruntuhan? Apa kau yang melakukan ini, Kak Neil?”

“Benar.”

Neil menjawab dengan cepat dan memasang ekspresi ceria.

“Tapi, kenapa kau melakukan hal ini? Apakah ada hubungannya dengan Game?

“Ohh, kau sudah tahu peraturann sekolah ini rupanya. Sebenarnya ini tidak ada hubungan sama sekali dengan ‘Game’ yang kaumaksud. Aku hanya ingin membersihkan area ini dari reruntuhan itu saja kok.”

Willem masih tidak mengerti, tapi ia menjawab, “Begitukah?”

“Ahh, kalau begitu bagaimana jika kita bermain Game? Aku rasa sedikit permainan akan mempercepat pekerjaanku.”

“Aku ingin menerimanya, tapi aku masih belum tahu hal-hal dasar tentang sihir.”

Mengernyitkan alisnya bingung, Neil mencoba mencari jalan keluarnya dengan berujar, “Untuk sekarang, cobalah memukul salah satu bangunan di sampingmu dengan sekuat tenaga.”

Tanpa bertanya apa-apa, Willem mengepalkan tangan kirinya lalu dengan cepat memukul tembok bangunan di samping kirinya, dan pada saat yang bersamaan suara bangunan runtuh terdengar keras dengan kabut asap di samping kiri Willem berdiri.

“Ohh, ternyata kau lumayan kuat juga.”

Neil kelihatan tidak terlalu terkejut, daripada Willem yang memasang ekspresi kaget saat melihat bekas tinjunya pada bangunan tadi.

Bangunan yang tadinya masih berdiri lumayan kokoh itu sekarang sudah hancur menjadi tumpukkan reruntuhan yang menggunung. Melihat tangan kirinya dan menggerakan jari-jemarinya. Willem sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.

Tinju yang ia lancarkan tadi tidaklah mencapai seperempat dari kekuatan yang ia bisa keluarkan, tentu saja ia menyadari kalau ia sangat sensitif dengan keberadaan seseorang. Tapi, untuk hal ini, ia sangat terkejut yang pastinya membuat ia sendiri mau tak mau semakin penasaran dengan siapa dirinya di masa lalu sebelum kehilangan ingatannya.

“Tampaknya kau sangat terkejut dengan kekuatanmu, kalau begitu, apa kau mau mencoba kekuatanmu itu dengan bermain Game bersamaku?”

Mendapat kesempatan untuk menjawab salah satu dari segunung pertanyaan pada dirinya sendiri, Willem menyunggingkan senyum miring dan menjawab dengan menambahkan semangat ke dalamnya.

“Ya!”

“Untuk sekarang, coba tunjukkan pin mu padaku.”

Mengeluarkan pin platina di saku celananya, Willem menunjukkan pin lingkaran tersebut pada Neil.

Seketika itu Neil tertawa terbahak-bahak saat melihat pin Willem, tapi tawanya bukan tawa mengejek melainkan tawa ceria.

“Aku tidak menyangka ada juga seseorang yang mendapat julukan Murid Bermasalah saat hari pertama ia sekolah. Memangnya apa yang sudah kaulakukan Willem?”

“Pertanyaan bagus. Aku ingin mengetahui jawabannya juga.”

Willem membalas dengan ringan. Walaupun sebenarnya dialah yang lebih terkejut tentang hal ini.

Akan tetapi, dalam nada bicaranya, semangat yang tadinya ia milikki telah hilang.

Berhasrat untuk mengembalikkan semangat Willem kembali, Neil mulai menjelaskan pemainannya.

“Permainannya mudah, kau harus menghancurkan bangunan-bangunan tua di area ini sebanyak-banyaknya dalam waktu 10 menit. Siapa yang paling banyak berhasil menghancurkan bangunan tua di area ini, dialah pemenangnya. Untuk taruhannya kita menggunakan harga diri, siapa yang kalah maka ia harus mematuhi satu perintah apa pun itu dari pemenang. Bagaimana?”

“Aku setuju.”

“Kalau begitu sudah diputuskan ya.”

Neil mengeluarkan pin segi tiga dari saku jasnya dan menunjukkannya pada Willem.

“Willem, apa kau sudah membaca secarik kertas yang diberikan oleh guru saat penerimaan siswa baru? Jika kau belum membacanya maka ikuti kata-kataku ini. ‘Deschanta’. Itu artinya, ‘Aku bersumpah pada peraturan yang mutlak’.”

“Aku mengerti.”

Pada saat itu juga, mereka berdua sama-sama mengirim pandangan dingin dan dengan posisi masih saling menunjukkan pin mereka, Neil merentangkan lengannya ke atas diikuti Willem, Neil menyunggingkan senyum miring dan mereka berucap pada waktu bersamaan.

“Deschanta!”

“Deschanta!”

Pada saat mereka mengucapkan sumpah, cahaya mengilat dan meleburkan pin mereka menjadi gulungan kertas berwarna daun teh kering.

<<Private Game>>

Peserta: Neil Schneider dan Willem Ainsworth.

Syarat Kemenangan:

*Hancurkan bangunan-bangunan tua sebanyak-banyaknya di area reruntuhan dalam waktu 10 menit.

Kondisi Kekalahan:

*Peserta yang lebih sedikit menghancurkan bangunan tua.

*Peserta tidak bisa melanjutkan permainan kembali atau menyerah.

Detail Stage:

Pemain tidak boleh melewati area reruntuhan.

                      Berdasarkan peraturan, peserta dari Private Game bersedia mempertaruhkan harga diri mereka dan bersumpah kepada peraturan yang mutlak.

Membaca sekilas isi dari gulungan tersebut, Willem pun menelengkan kepalanya.

“Ayo kita mulai Gamenya  ….”

Dalam sekejap, Neil berlari sprint ke belakang Willem dengan sangat cepat dan tanpa peringatan apa pun melemparkan Willem dengan sebuah tendangan pada titik butanya hingga menabrak beberapa bangunan tua di depannya.

Dan setelah menembus beberapa lapis bangunan, suara ribut tersebut akhirnya berhenti.

“Hahaha, oi, oi. Apa maksudnya ini Kak Neil?”

Willem tertawa sambil bangkit dari tumpukan puing-puing bangunan. Willem menyunggingkan senyum miris selagi menyipitkan matanya untuk mencoba mengintimidasi Neil.

“Menghancurkan bangunan tua dengan perantara, ini sama sekali tidak melanggar peraturaan Game, kau tahu?

Neil membalas dan menyunggingkan senyum ringan.

“Ohh, begitukah? Kalau begitu aku akan melakukan hal yang sama!”

Dalam sekejap, bangunan yang tadinya menahan Willem meledak menjadi serpihan saat Willem menggunakannya sebagai tumpuan kakinya untuk berlari sprint yang mirip dengan sebuah meriam yang ditembakkan dari moncongnya.

Neil tercekat saat menyadari Willem tiba-tiba berada di depannya dengan posisi tangan mengepal yang siap meluncurkan dirinya ke udara, akan tetapi reaksinya terlalu lambat sehingga tinju Willem mengenai perutnya dan melemparkannya ke udara dalam garis lurus menuju langit.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Willem langsung mencari bangunan tua dan segera menghancurkannya dengan tendangan dan pukulan. Melihat itu, Neil memulihkan dirinya di udara dan segera merapal mantra sihir, “Wahai roh tanah yang memberkati bumi, pinjamkanlah aku kekuatanmu.”

Seketika itu permukaan tanah di sekitar Willem bergetar dan dengan cepat berubah menjadi dinding tanah yang menghalangi Willem.

Berkelit melalui celah dari dinding tanah yang selalu tiba-tiba muncul dipijakkannya, Willem melompat ke depan Neil yang baru saja mendarat dan mengangkat kakinya untuk menyiapkan sebuah tendangan kepada Neil sebelum permukaan tanah naik dan membentuk sebuah dinding tanah yang menghalangi Willem.

“Tch!”

Karena sudah terlanjur, Willem terpaksa menendang dinding tanah tersebut dan dampak dari benturan itu menyebabkan permukaan tanah bergetar dan menghancurkan dinding yang melindungi Neil.

Pada saat yang sama saat dinding tanah itu hancur. Tiba-tiba Willem dapat merasakan kakinya dicengkram dengan sangat kuat dan membantingnya ke permukaan tanah dengan sangat keras.

Dan kemudian, sebuah tendangan mengirim tubuhnya terbang dan menabrak menembus 3 bangunan.

“Ada apa Willem? Kenapa kau tidak memakai satu pun sihir?!”

Willem sekali lagi bangkit dari tumpukan puing-puing.

Merapikan jas seragamnya dan mengebaskan debu, ia tersenyum lebar dan menyahut, “Baiklah. Aku akan mencobanya.”

Mengingat kembali pelajaran pendek yang ia dapat dari Nea, Willem menekuk lututnya.

“Seharusnya ini tidak melanggar peraturan apa pun, ‘kan?”

Willem dengan segera melompat tinggi-tinggi ke udara, saat ia lepas landas permukaan tanah membentuk sebuah cekungan  dan meniup kabut asap ke udara, lalu saat di udara ia dapat melihat dengan jelas seluruh area reruntuhan dan menghitung sisa reruntuhan yang belum hancur lalu menandai lokasinya.

Saat ini yang aku butuhkan adalah elemen angin dan tanah, tapi sial aku bahkan tidak bisa membayangkan wujud tanah dipikiranku!

Neil yang masih berada di permukaan tanah mengernyit bingung, ia berpikir kalau Willem sedang melakukan sesuatu. Seolah tidak memperbolehkan hal itu terjadi Neil berlari dengan sangat cepat, lalu saat berikutnya Neil berlari dengan hembusan angin di belakangnya, tidak lama kemudian, Neil melompat dengan dorongan ledakan angin di belakangnya menyusul Willem yang berada di udara.

Willem yang menahan tekanan udara karena gerak jatuhnya melihat Neil yang meluncur ke arahnya dengan kecepatan yang bukan main. Kecepatan itu sangat cepat sampai tidak memberikannya waktu merespon untuk menghindar.

Segera, Willem membuat posisi bertahan dengan menaikkan kedua tangannya. Saat itu juga, tinju Neil mengenai pertahanannya bersamaan dengan hembusan angin kencang yang menembus punggung Willem dan menerbangkannya ke langit lebih tinggi lagi.

Tepat saat ia terbang menuju langit dan melihat tanah semakin menjauh saja dari pandangannya, dengan tiba-tiba sesuatu yang datar menubruk punggungnya begitu saja.

“Ugh!”

Melihat dengan segera, ia memastikan sesuatu yang menabraknya.

[Ini?!]

Sesuatu yang menubruk punggungnya adalah lingkaran formasi sihir berwarna biru transparan, mengalihkan pandangannya kembali ke arah Neil, ia terkejut. Itu karena Neil sedang melayang di udara—tidak, lebih tepatnya dia berdiri di tengah udara dengan lingkaran formasi sihir yang sama seperti di belakang Willem di kakinya.

“Ohhh, aku mengeti. Tersisa 17 bangunan dari total 28 bangunan di area ini. Aku sudah menghancurkan sekitar 7 bangunan dan kau baru menghancurkan 4 bangunan, tidak ada yang salah dengan perhitunganku kan?”

“Kau benar sekali, Kak Neil.”

Pada saat Willem berujar Willem jatuh dan tubuh Willem turun lebih dari 180 derajat dan terjatuh ke arah permukaan tanah.

Memandangi reruntuhan di bawah yang seperti sebuah miniatur lanskap yang berangsur-angsur melebar karena gerak jatuhnya, Willem tersenyum miris.

“Apa yang kaulakukan?! Kau mungkin saja mati jika terjatuh dengan ketinggian seperti ini! Apa kau ingin mati Willem Ainsworth?”

Mendengar pernyataan optimis dari Neil, Willem membuka matanya lebar-lebar dan melihat ke atasnya yang secara diagonal adalah permukaan tanah.

“Tentu saja aku tidak akan mati, kau diam dan lihat saja aku Kak Neil!”

 Membuat pijakan udara seperti Kak Neil, bentuk formasinya, komposisinya, aku sudah tahu.

Meskipun Willem sudah berkeringat dingin, suasana hatinya terpompa sekali lagi.

Mendapatkan tatapan optimis dari perubahan sikap Willem, sebuah senyum tipis terlukis di bibir Neil.

Lingkaran sihir biru muncul di tengah udara di bawah Willem, akan tetapi saat Willem sampai pada formasi itu, bukannya mendarat tapi lingkaran sihir itu hanya menghambat jatuh Willem.

Mendapatkan kesempatan untuk membenarkan posisi tubuhnya kembali 180 derajat, Willem tahu ini tidaklah cukup. Ia kembali jatuh karena tarikan gravitasi bumi, lalu setelah beberapa detik Willem meluncur. Sebuah lingkaran sihir kembali muncul dan kali ini Willem berhasil mendarat di atasnya.

“Oof, ahhh, tadi hampir saja. Terima kasih untuk Kak Neil karena memberikan pelajaran singkat kepadaku.”

Willem menghela napas ringan dan melihat ke langit, di sana ia dapat melihat Neil yang melompat-lompat turun dari lingkaran sihir ke lingkaran sihir lainnnya yang semakin merendah.

“Aku tidak melakukan apa-apa, ngomong-ngomong Willem. Aku rasa sekarang aku adalah pemenangnya.”

“Apa?”

Dalam selang waktu itu, Willem menyadari kalau di bawah sana bangunan-bangunan tua sedang dihancurkan oleh dinding-dinding tanah yang muncul dari permukaan tanah.

Sial, Kak Neil sudah menghancurkan 7 bangunan dalam waktu yang sangat singkat. Jika aku melompat ke bawah, Kak Neil pasti menghalangiku, tapi jika aku hanya berdiam diri di sini maka  ….

“Ahh, aku rasa tadi aku belum mengeluarkan kekuatanku sepenuhnya. Jadi, mumpung ada kesempatan, sekarang izinkan aku untuk mencoba menaikkannya.”

“Begitukah? Apa kau serius?”

“Ya. Aku sangat serius.”

Karena Neil mengerti, bibirnya dengan segera menyunggingkan senyum tipis ketika melihat Willem menampakkan keseriusannya.

“Tapi, tentu saja kau berpikir aku tidak akan begitu saja membiarkanmu melakukannya, ‘kan?”

“Ya. Maka dari itu  ….”

Willem menampakkan senyum licik dan melompat ke bawah, tentu saja setelah melihat itu Neil tidak membiarkannya dan dengan tumpuan lingkaran sihir di kakinya ia melompat seperti meriam ke arah Willem. Tapi—

Willem menyebarkan lima lingkaran sihir di atasnya.

“Medan pelindung?!”

Sedikit terkejut, Neil mengepalkan lengannya dan berniat memukul lingkaran sihir Willem. Begitu ia melancarkan tinjunya, alih-alih menghancurkan lingkaran sihir Willem, justru tangan Neil malah menembus lingkaran sihir itu. Pada saat yang sama juga formasi sihir itu memberikan dorongan kecepatan angin kepada Willem lalu mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi, dan menjatuhkannya keras-keras.

*BOOM!!!*

Seketika itu juga, sebuah gelombang kejut yang besar menyapu area reruntuhan dan membentuk sebuah kawah; kawah tersebut terus melebar dalam area yang luas. Pecahan-pecahan batu, puing-puing bangunan dan tanah terlempar keluar ke udara ketika kawah itu melebar. Kekuatan besar yang menembus seluruh area reruntuhan berlanjut lebih dalam lagi dan seolah-olah sebuah danau tanpa air terbentuk saat itu juga.

“AHAHAHAHHA・・・,” Neil tertawa keras dan melompat ke dalam kabut asap coklat seakan-akan ingin melihat langsung apa yang terjadi sebenarnya.

Saat kabut perlahan menghilang, pemandangan sudah terlihat jelas kali ini. Area yang tadinya di isi bangunan-bangunan tua dan permukaan yang rata sudah menghilang digantikan dengan tumpukan puing-puing dan permukaan tanah yang membentuk cekungan seperti bekas meteorit menabrak bumi.

“Aku sangat terkejut tentang ini Willem.”

“Yah, aku sendiri juga terkejut.”

Willem terkejut hingga ke titik di mana tubuhnya tidak bisa bergerak.

Itu benar, Willem menyangka hanya akan ada kerusakan kecil seperti menghancurkan sedikit bangunan-bangunan tua di sekitarnya dan menggetarkan permukaan tanah dan menunda pergerakan dinding-dinding tanah Neil.

Tapi ternyata, kekuatan yang ia keluarkan jauh melebihi ekspektasinya. Siapa sangka hanya dengan kaki kosong dapat membuat kawah besar? Melihat hal ini, Willem mendapat satu pertanyaan lagi kepada dirinya, “Berapakah batas kekuatanku?”

“HEI! HENTIKAN ITU, MURID BERMASALAH!!!”

Suara seseorang wanita yang berteriak terdengar di atas atau lebih tepatnya di ujung kawah.

Walaupun itu sudah sangat terlambat.

Mendengar suara itu, mereka berdua mengalihkan pandangannya ke pemilik suara tersebut. Saat itu juga, Neil dan Willem dapat melihat sosoknya.

“Oh, Kak Arin rupanya.”

“Kakak! Apa yang kaulakukan di sini?”

Mereka berdua menyapa Arin Ursula yang memasang ekspresi sangat marah dan melompat lalu meluncur menuruni kawah.

“Kakak?”

Willem bertanya selagi mengalihkan pandangannya ke Neil.

“Oh, Arin Ursula adalah sepupuku. Tapi aku menganggapnya sebagai kakakku sendiri sih.”

Neil membalas dengan ringan, dan Willem hanya menganggukkan kepalanya tanda paham.

Game berakhir seri. Masing-masing pin dapat digunakan untuk memerintah.

Setelah suara pernyataan tersebut menghilang, pin mereka muncul kembali dan jatuh di pemilik masing-masing.

“Seri ya  ….”

“Sepertinya aku sangat beruntung bisa seri melawanmu di Game ini kak Neil.”

Mereka berdua tersenyum simpul dan bersalaman, dan semuanya akan berjalan baik-baik saja—itulah yang mereka inginkan. Tapi yang sebenarnya terjadi guru mereka Arin Ursula datang dan menceramahi mereka dengan sangat keras, hingga ke titik di mana mereka berpikir lebih baik dihukum.

“Memangnya apa yang kalian lakukan sampai-sampai membuat area sekolah berantakan? Kalian harus meminta maaf ke pemilik area ini dengan benar!”

Berbicara dengan tegas Arin melihat ke sekelilingnya.

“Ngomong-ngomong Kakak, pemilik area ini adalah Willem dan ia berkata ingin membuat danau untuk kanal dan pertanian.”

“Eh?”

Merasa tiba-tiba mendapat beban yang berat, Willem melihat mata Neil yang bergerak seperti menggunakan bahasa mata. Seolah mengerti apa yang dimaksud, Willem pura-pura batuk dan menjawab, “Ya, aku rasa sayang jika lahan tanah yang dibelakang tidak digunakan sebaik-baiknya, jadi aku meminta Kak Neil untuk membantuku.”

“Kalau begitu tidak apa-apa, memangnya kamu akan membuat lahan pertanian untuk apa?”

Merasa terpojok, Willem berjalan mendekati Arin dan mendekatkan bibirnya ke telinga Arin dan berbisik, “Sebenarnya—“

*Shish!*

Willem dan Neil berlari sangat cepat sampai-sampai mengeluarkan suara angin saat mendapatkan kesempatan untuk lari, sementara Arin masih berdiri diam di tempat yang sama dengan memasang ekspresi wajah “Eh?”. Begitu ia mendapat kesadarannya kembali, alisnya berdenyut hebat.

“Kuuuuuuu, DASAR, MURID-MURID BERMASALAH!!!”


Yaa, Yuu di sini. Bagi kalian yang telah membaca karya saya, terima kasih, terima kasih banyak. Dan untuk bab 3, saya akan upload secepatnya, dan tentunya dengan ilustrasinya.

Ahh, foto sampula artikel ini adalah foto ilustrasinya loh, cuma dipotong saja hahaha.

Sampai jumpa lagi!

Comments