Take a fresh look at your lifestyle.

Murid-Murid Bermasalah Ingin Membuat Komunitas Bermasalah? – Bab 1

97

Murid-Murid Bermasalah Ingin Membuat Komunitas Bermasalah? – Bab 1 [Bagian 1]


Bab 1

Willem membuka kelopak matanya perlahan, cahaya lampu menyambutnya saat pandangan matanya yang kabur perlahan kembali.

Tubuhnya sedikit sulit digerakkan, sekarang ia hanya bisa melihat canopi merah yang ada di hadapannya. Kesadaran Willem belum kembali sepenuhnya, ini seperti ia baru saja dibangunkan secara paksa dari tidur panjangnya.

Ini di mana? Dan ke

Kalimat yang pertama kali ia pikirkan sekaligus ia tanyakan pada dirinya sendiri terpotong saat suara pelan pintu yang terbuka. Di sana Nea datang membawa nampan yang di atasnya terdapat segelas air, satu mangkuk bubur, dan sendok.

“Wah, sudah bangun ya? Padahal tadinya aku akan melepas sihirku di tubuhmu.”

Nea berkata dengan nada ceria dan senyuman simpul yang tulus ia berikan kepada orang tidak dikenal seperti Willem. Dia berjalan mendekat dengan hati-hati dan duduk di tepian kasur di samping Willem lalu menyimpan nampan di atas meja.

Release.

Setelah Nea berkata begitu dengan nada riang. Willem bisa menggerakan tubuhnya kembali, dengan di bantu Nea. Willem mengangkat tubuh atasnya dan duduk bersandar pada tangan Nea. Ia tidak bertanya apa pun kepada Nea, matanya hanya melihat Nea penasaran..

“Simpan pertanyaanmu untuk nanti, pertama kamu harus mengisi perutmu dahulu. Aku akan menjawab semua yang kamu tanyakan kepadaku nanti.”

Seperti membaca pikiran Willem, Nea berkata dengan serius sembari mengambil mangkuk dan sendok.

“Emm.”

Willem membalas dengan anggukan lemah.

“Kalau begitu. Aahhh ….”

Sekarang mereka terlihat seperti seorang ibu yang menyuapi anaknya yang sedang sakit. Walaupun begitu, tidak ada rasa canggung sama sekali yang muncul di antara mereka.

Willem sudah menghabiskan makanannya. Sekarang seperti yang Nea katakan tadi, sekarang Willem boleh bertanya apa yang ingin ia tanyakan.

“Untuk sekarang, aku akan memperkenalkan diriku. Namaku—“

“Nea.”

Willem menyela perkenalan diri Nea dengan menyebut namanya.

“Kamu mengingatnya? Hebat, padahal saat itu kamu hampir tidak sadarkan diri lo.”

Nea tersenyum kagum dan melihat Willem dengan pandangan mata yang berbinar.

“Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diriku secara resmi. Namaku Nea vee Altina, kamu bisa memanggilku Nea. Namamu siapa?”

Nea memperkenalkan dirinya dengan anggun sementara tangan kanannya menyentuh dada kirinya, rambut merah yang selembut sutra jatuh dari bahunya sewaktu Nea membungkuk sopan, yang pertama kalinya membuat Willem sedikit malu.

—Will!
—Willem!

Willem mengingat samar ingatan seseorang yang memanggil namanya. Tetapi ia tidak terlalu memikirkannya, ia tersenyum dan mengenalkan dirinya dengan gerakan yang sama seperti Nea:

“Namaku Willem.”

“Hanya itu? Apa namamu sependek itu? Unik sekali ya.”

Nea berucap sembari mengangkat kepalanya melihat Willem.

Willem menggaruk-garukkan kepalanya dan tersenyum pahit lalu berkata dengan ragu-ragu:

“Sebenarnya … aku tidak mengingat apa pun … aku hanya mengingat namaku saja, ya itu saja.”

Nea membelalakkan matanya terkejut dan memekik kaget yang ditahan agar tidak terlalu berisik. Willem sudah menebak reaksi Nea, walaupun itu melebihi ekspektasinya. Sekarang dia hanya tersenyum polos melihat Nea yang panik.

“Hei, sekarang aku boleh bertanya, kan?”

Willem tiba-tiba bertanya yang membuat Nea terdiam dari kepanikanya. Menghela napas dan menurunkan bahunya bersamaan, Nea membenarkan posisi duduknya dan menegakkan punggungnya lalu menatap Willem dengan tatapan serius.

“Kenapa aku bisa di ada di sini?”

Nea mulai menjelaskan kenapa Willem bisa ada di sini. Willem mendengarkan dengan serius, kedua matanya menatap Nea dengan rasa keingin tahuan. Akhirnya—

“Sihir ya … Jadi tubuhku tadi sulit digerakkan itu karena sihir?”

“Benar, itu namanya sihir Paralyze. Sihir itu biasa di pakai untuk melumpuhkan, ini sihir dasar yang biasa di pakai untuk berburu.”
“Heeh, berburu ya  ….”

Willem berkata dengan tatapan mata kosong yang seperti sudah kehilangan cahayanya, itu membuat Nea panik dan menjelaskan kembali perkataanya.

“M-Maksudku, sihir ini juga bisa digunakan untuk melumpuhkan target, bukan untuk binatang saja ‘kok.”

Keringat mengucur di dahinya saat ia menjelaskan sihir Paralyze tadi. Sekarang Nea tersenyum dengan ekspresi wajah masam.

“Y-Yah seperti itu sih, ngomong-ngomong. Apa kamu tidak apa-apa dengan ini? Maksudku … Amnesia.”

Nea masih memikirkan ini dan ia bertanya dengan hati-hati.

“Ehh … Aku rasa ini masalah.”

“Huh?”

“Soalnya, aku tidak kenal siapa-siapa di sini, aku tidak mempunyai tempat tinggal, dan informasi. Aku tidak mengingat apa-apa … Jadi ini tentu masalah.”

Nea merasa kalau cara Willem mengatakanya terdengar sedih. Namun Willem tidak terdengar seperti dia memerlukan simpati dan hanya mengungkapkan fakta, Jadi Nea hanya mengangguk dan bertanya:

“Apa kamu tertarik dengan sihir?”

Willem mengangkat kepalanya dan melihat Nea yang menatapnya dengan mata merah rubi miliknya yang indah.

“Ya! Aku sangat tertarik!”

“Baiklah, kalau begitu aku akan memberimu informasi dasar tentang sihir dan kerajaan ini.”

Willem menatap Nea dengan mata berbinar, ia mendengar penjelasan Nea dengan napas tertahan.

—Kerajaan ini bernama Altheria. Sebuah kerajaan yang mandiri dibangun oleh seorang raja sekaligus penyihir legendaris bernama William A. Kerajaan ini sudah berdiri sejak 300 tahun lalu setelah perang besar selesai. Raja William membangun Akademi Sihir Altheria bersamaan dengan berdirinya kerajaan ini. Akademi Sihir Altheria kini masih berdiri dan menjadi salah satu akademi sihir terbesar di dunia. Tapi tingkat kelulusan di akademi itu sangat kecil, kurang dari 10% yang bisa lulus. Karena ada peraturan dari akademi yang unik, dan ujian-ujian yang disiapkan sangat sulit.

“Jujur, aku tidak terlalu menyukai peraturannya.”

“Huh? Kenapa?”

“Ahhh, tidak apa-apa.”

—Di sekolah, murid diberikan tingkatan sesuai nilainya. Nilai atau Rank yang diberikan dari C-SS.
Aku akan menjelaskannya. Kita mulai dari yang terendah.
C : Tingkatan terbawah dari nilai sekolah, biasanya orang-orang yang berada di nilai ini tidak berbakat dengan sihir, dan hanya mengandalkan sihir dasar maupun fisik.
B : Berada satu tingkatan lebih atas dari nilai C, dan ini nilai rata-rata di sekolah.
A :  Rank A, biasanya diisi oleh orang-orang bangsawan yang sudah belajar sihir sejak kecil. Mereka kebanyakan sangat pintar dan mulai dari nilai ini, sekolah akan menyediakan fasilitas khusus serta perlakuan khusus.
S : Di sekolah, orang yang memiliki nilai S sangat jarang. Sejauh ini sekolah hanya mempunyai 9 orang murid, dan banyak yang menyebut mereka adalah orang-orang terpilih atau berbakat.

—Dan satu lagi.
SS : ‘Seorang monster’ itulah yang orang-orang katakan. Orang-orang mengatakan kalau orang yang mempunyai nilai ini bisa disetarakan dengan seorang “Raja”. Dan sekolah mempunyai seorang murid yang mempunyai nilai ini.

“Begitulah, apa kamu punya pertanyaan lain?”

Setelah menjelaskan panjang lebar, Nea melihat Willem yang memasang wajah bingung. Tapi Willem bingung bukan karena penjelasan Nea, dia merasa kalau cara bicara Nea seperti mengajak Willem untuk masuk ke Akademi Sihir Altheria. Jadi ia bingung, apa semudah itu masuk ke sekolah yang hanya meluluskan 10% muridnya?
Jawabannya … Iya.

Untuk masuk ke akademi sihir hanya membutuhkan keterampilan dalam sihir, tapi berbeda ceritanya jika murid pindahan seperti Willem yang tiba-tiba masuk ke sekolah bukan dari awal, jadi bisa saja pihak sekolah membuat ujian yang lumayan sulit untuk Willem.

“Jadi, aku harus belajar sihir dari sekarang, ‘kan?”

Willem bertanya dengan ragu-ragu. Nea membalas dengan menyunggingkan senyum yang menantang, dan membuat Willem mengernyit bingung.

“Tentu saja!”

Nea mengangguk dan menjawab dengan ceria.

“Kalau begitu.”

Nea berdiri, rambutnya yang panjang dan merah ikut bergerak saat Nea berdiri sementara tangannya membereskan mangkuk dan gelas tadi ke atas nampan.

“Kamu boleh memakai kamar mandi untuk membersihkan badanmu. Setelah itu aku akan menunggumu di halaman belakang, aku akan mengajarkanmu sihir dasar untuk permulaan.”

Nea berbicara sambil tersenyum simpul dan mengangkat nampan lalu berjalan menuju pintu. Ketika sampai di depan pintu, dia memutar daun pintu selagi membawa nampan, menariknya hingga terbuka dan keluar. Dengan suara berdebum, pintu tertutup, Willem menghela napas pendek lalu bangkit dan membereskan kasur.

Setelah membereskan kasur, Willem membalikkan badannya lalu ia melihat sekelilingnya, ia menyadari bahwa ia berada di sebuah kamar yang besar. Kamar ini seolah diperuntukkan untuk orang-orang berkelas, lantai yang dilapisi karpet merah, pintu kaca, dan balkon yang ditutupi gordeng putih dengan pola bunga itu sangat mewah.

Setelah beberapa kali membuka pintu yang ada di rumah ini, akhirnya Willem menemukan kamar mandi yang berada di lantai 1 dekat dengan tangga. Willem melihat kamar mandi dengan perasaan yang takjub. Hal pertama yang ia lihat adalah kolam yang lumayan besar dengan air yang mengeluarkan uap seperti kabut putih, dan terdapat beberapa pilar yang menyebar di tengah kolam.

Willem melepas pakaiannya dengan cekatan sembari merapikanya, dan dengan sehelai handuk yang menutupi bagian bawah pinggangnya, ia langsung memasuki kolam. Kolam itu sangat nyaman dan hangat dengan suhu yang pas. Willem menatap langit-langit dengan pandangan mata dingin, ia berpikir kenapa dia bisa kehilangan ingatannya.

Willem … itulah namaku, kenapa aku bisa kehilangan ingatan? Kenapa aku bisa berbicara dengan lancar dan melakukan sesuatu dengan mudah?

Hal normal bagi seseorang yang kehilangan ingatannya tetapi masih mengingat cara berbicara dan berbahasa. Hal ini juga berlaku untuk kemampuan dan kebiasaan. Contohnya seseorang yang hilang ingatan tetapi dia masih ingat cara mengendarai sepeda, memakai sumpit, membaca maupun menulis, ataupun kebiasaan seperti menggigit es.

Namun untuk kasus Willem sedikit berbeda, karena dia bisa mengingat namanya, dan masih mengingat sedikit kejadian di masa lalu. Walaupun ingatannya tidak jelas dan jika Willem mencoba mengingatnya, justru malah membuat kepalanya sakit.

Sip.”

Willem berdiri setelah memantapkan keputusannya, ia keluar dari kolam dan mulai membasuh tubuhnya. Setelah itu—

“Will! Aku sudah siapkan baju gantimu di kamar. Setelah berganti pakaian, segeralah ke halaman belakang untuk belajar sihir.”

Sebuah seruan yang riang terdengar dari luar kamar mandi. Willem yang sedang mengeringkan rambutnya menyaut dengan singkat, “Baik!” lalu mengenakan handuk dan segera berjalan menuju kamar.

Saat sampai di kamar, Willem melihat pakaian yang disiapkan Nea di atas kasur. Setelah Willem mengenakan pakaiannya dengan sempurna, ia lalu berjalan menuju halaman belakang.

Di sana, Nea sedang duduk di atas kursi kayu berwarna putih dengan meja bulat yang berwarna sama dengan kursi. Di atas meja terdapat sebuah tas berwarna coklat terang. Sembari melihat Willem mendekatinya, Nea berdiri lalu berkata.

“Baiklah, aku akan mengajarimu sihir elemen sebagai dasar.”

Ia berkata dengan riang.

“Baiklah, jadi pertama aku akan belajar dari elemen apa?”

Willem berkata dengan penuh semangat dan mata yang berbinar.

“Hmmm, bagaimana kalau mencari tahu kamu cocok dengan atribut apa?”

Nea menyarankan sambil meletakkan jari di pipinya dan Willem terdiam sebentar lalu dia berkata:

“Baiklah, untuk saat ini terserah padamu Guru!”

“Huh?!”

Nea tersentak kaget saat mendengar Willem memanggilnya guru, wajahnya berubah merah dan menunduk malu.

“…?”

Willem menatap bingung sebelum ia menyunggingkan senyum kurang ajar karena menyadari kalau Nea sangat malu saat dipanggil guru olehnya. Oleh karena itu, Willem menggodanya dengan berulang-ulang memanggil Nea sebagai guru.

“Hentikan itu Wiillem! Jangan memanggilku guru lagi, atau aku akan marah!”

Nea berkata dengan nada tinggi, kedua lengannya saling menyilang dan memalingkan wajahnya sementara pipinya ia kembungkan. Hal itu membuat Willem merasa bersalah dan meminta maaf.

“Ayo kita lanjutkan.”

Nea memakai kacamata berbingkai merah dan mengeluarkan kapur dan beberapa buku dari tas. Sekarang dia sudah benar-benar seperti seorang guru, rambut merah, mata merah dan kacamata berbingkai merahnya saling mendukung penampilannya. Dan hal itu membuat Willem tersenyum selagi menahan tawanya.

“Nm!”

Willem mengangguk dan mendengarkan penjelasan Nea dengan napas tertahan.

“Untuk mencari tahu elemen yang cocok denganmu, kamu bisa memanggil roh atau peri sebagai perantaranya. Caranya yaitu kamu harus membuat lingkaran sihir sederhana dan mengucapkan satu rapalan kalimat.”

“Hmm hmm.”

Willem menganggukan kepalanya dengan semangat.

“Kamu bisa mengikuti contoh yang ada di buku, aku akan ke dapur untuk mengambil teh.”

Setelah berkata seperti itu dengan nada ceria seperti biasa, Nea berjalan memasuki rumah dan membuka pintu belakang rumah. Melihat itu Willem lalu duduk dan mengambil satu buku yang tadi Nea keluarkan dan mulai membacanya.

“Baiklah, apa ini? Hmmm, ada empat cara untuk memanggil roh, setiap cara berbeda-beda dan berbeda juga manfaatnya, yah … baiklah aku akan mencoba yang paling sulit. Sepertinya akan menarik kalau memulai sesuatu dengan yang sulit.”

Willem bergumam dan tersenyum lalu ia berdiri dan mengambil kapur lalu menggambar pola sihir yang seperti di buku selebar 2 meter dan mulai menggambarnya di atas rumput. Hebatnya ia sama sekali tidak melihat lagi contoh di buku dan setelah ia selesai menggambar pola sihir yang lumayan rumit, membentuk segi delapan dan beberapa pola rumit di sampingnya.

Willem menghela napas lalu merapalkan kalimat sihir:

“Wahai, peri dan roh yang mewakili elemen di alam semesta. Jawablah panggilanku.”

Seketika itu, pola sihir mulai mengeluarkan cahaya terang keemasan, dan seiring Willem mengucapkan rapalannya pola sihir itu perlahan naik dan melayang di udara.

Summon!”

Pada saat Willem merapalkan kalimat terakhirnya, tiba-tiba terdengar suara retakan dan suara yang melengking sebelum pola sihir itu meledakkan cahaya dan sekilas Willem melihat cahaya rumit membentuk sebuah siluet yang menuju langit sebelum sinar itu membutakan matanya sementara.

“Willem?!”

Pada saat yang sama, dari dalam rumah. Cahaya yang sangat terang itu masuk melewati celah-celah rumah dan segera Nea berlari mendekati asal cahaya itu, ia melihat Willem yang masih berdiri dengan posisi tangan yang menghalangi matanya.

“Apa yang kaulakukan!?”

Nea berkata dengan suara dan ekspresi khawatir, ia berlari kecil dan melihat bekas ledakan pola sihir yang dibuat Willem tadi. Pola sihir yang berdiameter 2 meter tadi kini menghilang digantikan dengan jejak ledakkan seperti ledakkan ranjau yang sebelumnya di tanam di tanah.

“Willem, apa yang kamu lakukan tadi?”

Dia bertanya dan menatap Willem dengan mata merahnya. Willem terdiam sejenak, menurunkan tangannya. Dia berkata dengan suara sedikit menyesal:

“Ahhh, soal itu. Tadi aku mencoba sihir yang ada di buku … aku mencoba yang paling sulit.”

“Haaahh?”

Willem sudah menebak ekspresi Nea sekarang, tapi itu tidak membuat Willem senang sama sekali. Nea mengambil buku tadi dan membuka halaman selagi tangan satu laginya mengambil kapur.

“Eh, Apa yang kaulakukan?”

Willem bertanya dengan ekspresi wajah penasaran karena sekarang, Nea sedang menggambar lingkaran sihir yang hampir sama seperti Willem tadi, tapi ini sedikit berbeda.

“Nea?”

“…”

Tidak ada jawaban, Nea terlihat sangat serius saat menggambar pola sihir itu, dan itu membuat perasaan Willem tidak enak. Dia berpikir, kalau dia hanya bisa merepotkan Nea terus, lalu saat dia akan membuka mulutnya untuk meminta maaf. Nea berkata dengan ekspresi dan suara yang serius sambil mengulurkan tangannya:

“Genggamlah tanganku!”

“Huh?”

“Cepat!”

Willem mengenggam tangan Nea yang sangat langsing dan seakan bisa patah kapan saja, lalu Nea berkata sambil menutup kedua matanya:

“Tutup matamu, jangan mencoba untuk membuka mata tanpa aku suruh.”

Tanpa menanyakan alasannya terlebih dahulu, Willem menutup matanya. Bibir Nea yang tadinya terkatup rapat, perlahan terbuka dan mengatakan sesuatu.

“Wahai, peri dan roh yang mewakili elemen di alam semesta. Jawablah permohonanku.”

Willem dapat merasakan genggaman tangan Nea yang semakin erat, pada saat yang sama Nea membaca rapalan kalimat sihir. Tanah yang mereka injak terasa menghilang, dan sekarang mereka seperti meluncur ke bawah dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Willem semakin penasaran dan ingin membuka matanya, tapi—

“Jangan coba-coba!”

Seolah tahu apa yang akan Willem lakukan, Nea berkata dengan suara yang mengintimidasi. Willem mengurungkan niatnya untuk membuka mata, dan merasakan genggaman tangan Nea yang semakin erat.

Tanah sudah dapat mereka rasakan kembali, perasaan melayang sudah menghilang. Dengan suara lega Nea berkata:

“Kamu boleh membuka matamu, tapi jangan lepaskan genggaman tanganku.”

Mendengar itu, Willem membuka matanya perlahan … Pada saat itu dunia di atas dan di bawah membentuk langit dan bumi, tapi bukan hanya itu saja langit dan bumi terlihat seakan menyatu. Tepat saat ia memandangi tentang betapa luar biasanya, tiba-tiba sebuah bayangan muncul dari langit begitu saja.

Wah.

“Apa itu?”

Willem bergumam kagum sambil melihat bulatan bayangan yang perlahan turun dari langit.

Entah bagaimana, tanpa disadarinya, langit-langit yang tadinya dipenuhi awan-awan hitam, telah digantikan dengan dedaunan hijau yang menutupi langit-langit miniatur dunia itu. Di sisi lain, bulatan merah seperti bola api atau mungkin matahari memancarkan cahayanya, juga terdapat bola air dan elemen-elemen lainnya.

Willem merasa kalau dunia yang seperti berada di bagian dalam bola yang sepenuhnya tertutup ini, adalah dunia berkumpulnya elemen-elemen di alam semesta. Dia menyimpulkan ini karena melihat beberapa tempat yang hanya ada satu elemen saja, saat dia ingin menanyakan segudang pertanyaannya kepada Nea. Nea berkata terlebih dahulu.

“Ini adaah tempat para roh dan peri berkumpul, dunia lain yang dibuat berdasarkan elemen di alam semesta, Etheria.”

“Berarti kita sekarang berada di dunia yang berbeda?”

Willem berkata dengan ekspresi terkejut, tapi tidak ada tanda-tanda kepanikan dari dirinya.

“Bisa dibilang begitu, tapi lebih tepatnya. Hanya jiwa kita yang berada di tempat ini, sedangkan tubuh kita masih ada di dunia kita.”

Nea berkata sembari membenarkan posisi kacamatanya, lalu Willem melihat tangannya yang sedang mengenggam tangan Nea dan bertanya dengan nada kasual:

“Lalu, alasan kita berpegangan tangan apa?”

Nea terdiam sebentar.

“Ini agar kita saling terhubung—ahh maksudku, terhubung dalam artian berbeda, bukan terhubung … hal seperti itu.”

Nea berujar dengan sedikit panik dan wajahnya sangat merah dan suaranya semakin mengecil. Willem tersenyum dan mengangguk.

“Benar juga, aku baru sadar. Aku baru mengenalmu beberapa jam yang lalu, sekarang aku merasa sedang bersama teman lama.”

Nea membelalakkan matanya sedikit terkejut, bibirnya terkatup rapat sementara alisnya turun sedikit. Dia berekspresi seperti orang yang baru menyadari sesuatu.

“Benar juga, aku sendiri juga terkejut.”

“Yah, sepertinya, karena sifatmu yang mudah didekati, aku yang mengalami hilang ingatan saja bisa langsung dekat denganmu.”

Nea mengangguk, lalu tersenyum dan berkata dengan riang:

“Nm, terima kasih. Sekarang perjalananmu sebagai penyihir baru dimulai, sekarang untuk permulaan kita harus menyelamatkan nyawamu terlebih dahulu.”

“Huh?”

Sebagai seseorang yang mengalami amnesia dan baru saja diselamatkan oleh seorang gadis. Tapi menghadapi situasi yang mengancam nyawa seperti ini saat akan memulai hidup baru, ini seperti sebuah pertanda baik. Bagaimanapun juga, ini saja sudah merupakan pengalaman pertama dalam hidup Willem.

Ia kemudian memantapkan tekadnya untuk memastikan “Berterima kasih” pada Nea dengan sepatutnya.

Setelah sesampainya di pusat Etheria, tatapan Willem berbinar-binar penuh semangat, terpaku pada danau besar di depannya. Pemandangan yang dapat dikatakan sebagai sesuatu yang sangat kontras dibandingkan dengan sisi lainnya, membuat ia merasa luapan emosi dalam diri dan membuatnya mendesah saat ia berdiri di atas bukit untuk mengamati daerah di sekitarnya.

Warna air danau berwarna ungu, mengalir seperti sungai menghampiri tempat-tempat elemen berada. Tepat di tengah danau, terdapat pusaran air yang berwarna ungu gelap.

“Tempat yang benar-benar aneh, langit-langit yang ditutupi daun. Danau yang berwarna ungu, sebuah dunia kecil yang mirip bagian dalam bola.”

Willem berkata sambil memperhatikan sekitar, lalu saat Willem melihat kesampingnya. Matanya saling berserobok dengan Nea. Akan tetapi, tatapan mata Nea berbeda. Itu seperti Nea merasakan sesuatu yang buruk dan Willem dapat merasakannya saat pandangan mereka bertemu, sesuatu yang tidak baik akan datang sebentar lagi.

Nea semakin erat mengenggam tangan Willem, dan berkata dengan suara yang takut-takut:

“Dia datang!”

Mereka melihat ke langit, dedauanan yang menutupi langit-langit terbuka mengeluarkan sebuah cahaya hijau tipis, dan dengan perlahan tapi pasti. Sebuah bayangan kegelapan yang gemerlapan, berangsur-angsur melebar.

Dalam sekejap, langit-langit tiba-tiba terbelah menjadi dua. Langit-langit yang tadinya ditutupi dedaunan hijau, dihalangi oleh sebuah tirai bayangan yang menyebabkan langit-langit Etheria menjadi berwarna kehitaman.

Menulusuri celah di antara langit-langit yang telah terbelah menjadi dua, Willem melihat sebuah siluet membentuk seseorang.

“Apa …?! Apa itu?”

“Itu adalah bentuk kehidupan dari dunia ini!”

“Wah, aku sudah lama tidak menerima tamu manusia. Apa yang kalian lakukan di sini?”

Hanya dengan suara yang sangat mengejutkan yang melampaui akal sehat, seluruh Etheria terguncang. Meskipun bayangan tersebut belum dapat dikenali.

Tidak pernah mengalami tekanan seperti ini sebelumnya, Willem ikut bergetar.

Kemudian muncullah seseorang yang tiba-tiba berada dihadapan mereka berdua. Seseorang perempuan yang cantik tersenyum miris melihat Nea dan Willem.

Rambut hitamnya yang mengkilap indah ditahan oleh jepit bulan dan bintang, mengenakan sebuah kimono biru elegan dengan pola bunga enam warna, dan ketika ia berjalan dengan langkah agak melankolis, lengan kimononya juga bergoyang mengikuti gerakannya. Menatap acuh tak acuh sambil mengamati Nea dan Willem, ia berjalan mendekat dan berhenti di hadapan mereka.

“Manusia, sebutkan namamu.”

Sebuah suara yang berwibawa dan mengintimidasi terdengar dari bibirnya yang tipis. Mendengar itu Willem dan Nea menyebutkan nama mereka:

“Saya Nea vee Altina.”

“Namaku Willem.”

“Aku mengerti, dan jangan terlalu formal kepadaku. Kau hanya perlu bersikap seperti Willem.”

Pernyataan itu ditujunkkan untuk Nea yang bersikap formal.

Perempuan itu mengamati Willem dan berkata sembari menunjuk Willem:

“Kau, kau yang merapalkan mantra sihir itu kan?”

“Huh?! Iya.”

Willem sedikit terkejut saat perempuan itu tiba-tiba menunjuknya. Lalu dengan ekspresi sedikit panik Nea berkata:

“Tolong maafkan—“

“Kau itu sangat merepotkan ya, mencoba mengeluarkan sihir tingkat tinggi dengan seluruh kekuatanmu. Kenapa kau melakukan hal tidak masuk akal itu?”

“Huh!?”

Nea terdiam, saat perempuan itu memotong permintaan maafnya. Perempuan itu memegang kepalanya sambil mendesah ringan. Mereka berdua memasang ekspresi kebingungan, terutama Willem yang tidak mengetahui situasinya.

“Oops, aku lupa memperkenalkan diriku, namaku Ether perwujudan dari dunia ini. Dan satu hal lagi …”

Ether berjalan mendekati mereka berdua dan berhenti di tengah-tengah mereka, menaikkan tangan kanannya tinggi-tinggi dan menurunkannya dengan cepat dan membuat genggaman tangan Nea dan Willem terlepas.

“A-A-A-A-A-A-Apa yang kamu lakukan?!”

Nea berkata dengan nada tinggi yang terpotong-potong sambil berusaha menggapai tangan Willem akan tetapi ditahan oleh Ether.

“Lepaskan! Kalau tidak Willem akan berubah menjadi ketiadaan.”

“Tenang saja, memangnya kau menganggap aku siapa? Aku bisa membalikkan ketiadaan seseorang.”

Nea berhenti sejenak, menghela napas untuk menenangkan diri, lalu berkata kepada Willem dengan malu-malu.

“Itu tadi bukan berarti aku ingin mengenggam tanganmu ya, itu hanya untuk melindungimu.”

“Aku mengerti, terima kasih banyak Nea, kau sudah menyelamatkan hidupku dua kali.”

Willem sebenarnya tidak terlalu mengerti apa yang terjadi, tetapi ia tersenyum dan berkata demikian.

“Hmph!” Kejutnya. “Jadi, kenapa kalian datang ke Etheria?”

“Ahh, benar juga. Kita datang ke Etheria untuk meminta maaf kepada Ether untuk mencegah Willem menjadi ketiadaan. Tapi syukurlah kalau itu tidak akan terjadi.”

“Hanya itu? Kalian menggunakan sihir tingkat tinggi hanya untuk meminta maaf? Itu membuat hatiku sakit, hiks.”

Melihat Ether yang sangat menyedihkan, Nea dan Willem saling menatap lalu sebagai perwakilan Willem berkata dengan ekspresi bersalah.

“Lalu, apa yang harus kami lakukan?”

Ether menaikkan bahunya dan bibirnya ia naikkan membentuk senyuman nakal.

“Bagaimana kalau membawa sesuatu untuk dibawa pulang?”

“Tidak, terima kasih.”

Willem menjawab dengan sangat cepat dan tanggap sampai membuat Ether kecewa, lalu dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis. Hal itu tidak berefek kepada Willem, tetapi berbeda dengan Nea. Ia melihat Willem dan  berkata dengan suara dan ekspresi kasihan.

“Willem, kenapa kamu menolaknya? Padahal Ether berusaha berbuat baik.”

“Perasaanku bilang, untuk tidak menerima apa pun dari wanita ini.”

“Kejam sekali, hiks.”

“Willem ….”

Dengan perasaan merasa bersalah karena Nea dan bercampur dengan perasaan kesal karena Ether, Willem menggaruk belakang kepalanya sembari berkata:

“Sebagai perwujudan dari dunia, kau sangat menyedihkan, ya. Membiarkan seorang manusia mengkasihanimu, baiklah. Jadi, kauakan memberiku apa?”

Wajah Ether kembali cerah, ia menyunggingkan senyum sembari menaikkan jari telunjuknya ke bibirnya.

“Ra-ha-si-a.”

Mendengar itu Willem semakin kesal sedangkan Nea tersenyum pahit, kejadian ini sudah sangat jauh dari ekspektasi mereka. Sebuah perwujudan dari dunia bersikap seperti seorang gadis biasa, Willem merasa ada yang salah dengan ini. Tetapi ia tidak mempedulikannya, kemudian Ether menaikkan kedua lengannya yang tersembunyi di balik kimononya dan berucap:

“Kalau begitu, aku akan mengirim hadiahku nanti. Kalian boleh kembali ke dunia kalian. Sampai jumpa lagi.”

Setelah sebuah tepukan tangan terdengar, Nea dan Willem keluar dari dunia yang mewakili seluruh elemen di alam semesta.

Comments