Murid-Murid Bermasalah Ingin Membuat Komunitas Bermasalah – Bab 3

Murid-Murid Bermasalah Ingin Membuat Komunitas Bermasalah – Bab 3 adalah light novel yang saya buat sendirii, walaupun saya rasa masih ada yang kurang sih.


Bab 3

Bagian 1

—Saat malam harinya, Willem dan Neil yang tertangkap terpaksa mendengar ceramah Arin selama berjam-jam dengan posisi duduk seiza.

“Apa kalian mengerti? Walaupun ini memang area milik Willem, tapi kalian tidak boleh sembarangan menghancurkan area sekolah!”

“Baik.”

“Baik.”

“Dan juga, Willem, apa yang kamu lakukan sampai-sampai membawa seorang gadis ke sini dan menjadikannya pelayanmu?”

Arin berujar sambil menunjuk ke arah Ethel yang berada di dapur. Sementara Ethel yang mengintip dari dapur tersenyum pahit, ia ingin memberitahukan kalau makan malam sudah siap, tapi tampaknya Arin tidak menyadari niat Ethel.

“Ethel, ‘kan? Apa kamu diculik atau semacamnya oleh Willem? Apa kamu tidak apa-apa?”

Mendapat deretan pertanyaan penuh kesalahpahaman Ethel menyunggingkan senyum masam selagi membalas, “Ya, sepertinya Anda salah paham.”

“Apa maksudnya ini? Kenapa kamu berbicara dengan sangat sopan begitu? Aku rasa ini benar-benar keterlaluan.”

Seraya Arin yang hanyut akan kesalahpahamannya, Willem dan Neil saling berbisik.

“Kak Neil, apa Kak Arin itu tidak bisa membaca situasi?”

“Ya, walaupun ia sangat kuat sebagai ahli sihir, tapi ia memang tidak bisa membaca situasi.”

“Ahhh, aku mengerti sekarang. Ngomong-ngomong apa-apaan dengan kecepatan Kak Arin yang tidak normal itu. Apa ia memang secepat itu Kak Neil?”

Willem merujuk saat di mana ia dan Neil yang berusaha kabur dari Arin.

Hal itu terjadi saat Willem dan Neil yang berlari berlawanan arah, saat mereka telah berlari sejauh 10m.

Arin tiba-tiba berada di depan Willem lalu mencengkram kerah bajunya, selanjutnya Arin berlari menyusul Neil dan berhasil menangkap kedua murid bermasalah itu.

Willem masih bingung dengan kecepatan Arin yang mungkin saja itu tidak mencapai kekuatan aslinya. Walaupun Willem bisa saja lepas dari cengkraman Arin, tapi Willem lebih memilih untuk pasrah, karena lebih menarik berlari saat diceramahi bukan?

Walaupun kenyataannya tidak seperti itu.

“Permisi!”

Sebuah suara anak kecil terdengar dari belakang Arin.

Semua pandangan dari orang-orang di ruangan itu teralih ke sosok anak kecil yang berdiri dekat dengan sofa di tengah ruangan itu. Mansion Willem memang terbilang sangat luas, jadi jarak antara anak kecil itu dengan Willem dan lainnya yang berada di sudut ruangan, lumayan agak jauh.

“Yo, selamat malam. Neil dan lainnya!”

Anak laki-laki itu tersenyum simpul ketika menyapa Willem dan lainnya.

Ia memiliki rambut putih yang sama seperti Felycia, matanya yang berwarna merah darah mengingatkan Willem dengan Felycia, tetapi pandangan matanya sama sekali tidak memberikan kesan dingin dan berkesan hangat.

Untuk seseorang yang memanggil Neil dengan akrab, ia memiliki tinggi sekitar 150cm dan siapa pun yang baru melihatnya akan berpikir kalau dia murid SMP di Akademi Sihir Altheria.

“Hei, Kak yang di sana.”

Anak laki-laki itu bertanya pada Ethel yang menengoknya dari dapur.

“Apa Kakak sudah menyiapkan makan malamnya?”

“Iya.”

Ethel membalas sambil mengangguk sopan dan mempersilahkan anak laki-laki itu untuk berjalan melewatinya menuju ruang makan.

“Apa yang kalian lakukan? Kakak ini sudah menyiapkan makan malam, ayo kita makan terlebih dahulu.”

Anak laki-laki itu tersenyum saat mengajak Willem dan lainnya seolah-olah dialah tuan rumah di rumah ini.

Setelah itu, Arin memutuskan untuk menunda ceramahnya dan berjalan menuju ruang makan, disusul Neil dan Willem yang bisa bernafas lega karena bebas dari ceramah Arin yang menjemukkan.

Meja panjang di tengah ruangan itu penuh dengan hidangan utama, dan mereka semua sudah duduk ditiap kursi yang kosong. Tapi, Willem segera dapat melihat sosok yang asing di hadapannya.

Anak laki-laki berambut putih tadi menghilang digantikan dengan anak laki-laki berambut pirang dengan mata berwarna daun maple kering.

“Semuanya sudah berkumpul ya? Kalau begitu izinkan aku memperkenalkan diriku. Namaku Riel, Riel White.”

“Riel White?!”

Arin tiba-tiba berteriak kecil sambil membelalakkan matanya terkejut dan berdiri ketika menyebutkan nama anak laki-laki itu.

Sementara semua pandangan mengarah pada dirinya, Arin pura-pura batuk dan kembali duduk dengan pipi yang memerah karena malu.

“Langsung saja ke intinya, Willem Ainsworth. Apa kau berminat untuk masuk ke sebuah organisasi atau komunitas di sini?”

Mendapatkan pertanyaan yang tiba-tiba dari Riel, Willem menaikkan alisnya bingung karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Riel tentang “Komunitas”.

Tapi mendapatkan kesempatan untuk menjawab beberapa pertanyaan di kepalanya, ini adalah salah satu pertanda bagus. Bagaimanapun juga, Willem harus bertanya sampai ia benar-benar mendapat jawaban yang bagus.

“Memangnya apa itu ‘organisasi dan komunitas’ yang kausebutkan?”

Arin dan Riel memiringkan kepalanya bersamaan, lalu Neil tiba-tiba menyela untuk berkata, “Willem masih belum mengetahui apa-apa tentang akademi ini jadi … Ini sudah menjadi tugas seorang guru untuk menjelaskan, ‘kan? Kakak?”

Neil tersenyum ceria ketika berujar demikian, dan dari senyumannya, sudah jelas kalau itu senyum palsu yang penuh dendam.

“Heh? B-Baiklah, jadi apa yang ingin kamu tanyakan pada diriku ini?”

Arin membusungkan dadanya sambil tersenyum penuh percaya diri, sebelum menyadari tatapan dari dua orang.

“Ketat ya.”

“Ya, ketat.”

Mata Willem dan Riel mengilat saat saling berserobok, mereka sama-sama menyunggingkan senyum kurang ajar.

“Apa yang kalian lihat dasar Murid Bermasalah!”

Arin memeluk dadanya sambil menyandarkan punggungnya untuk mundur dari pandangan kedua orang itu.

Willem dan Riel menurunkan pandangan dan senyuman kurang ajar mereka, sementara Ethel telah selesai menuangkan air pada tiap gelas lalu melihat dadanya dengan pandangan bingung.

“Jadi apa yang ingin kamu tanyakan Willem?”

“Ahh benar, kalau begitu ini pertanyaanku; Apa itu Game? Apa Game berlaku selain di akademi ini? Apa ada batasan Game? Apa itu komunitas? Apa itu Peraturan Mutlak? Apa ada semacam kekuatan selain sihir? Apa—“

“STOP!! STOP!!”

Arin yang linglung saat mendapat rentetan pertanyaan dari Willem yang seakan tidak akan berhenti kalau Arin tidak segera menghentikannya. Arin mendesah pelan lalu melanjutkan.

“Untuk sekarang kamu coba baca kertas yang diberikan Pak Ren.”

“Ahh, benar.”

Willem merogoh saku celananya untuk mengambil kertas tersebut, namun ia tidak menemukannya.

“Ah, hilang.”

Ia berkata dengan ringan.

“… Ya ampun, Murid Bermasalah memang tidak bisa diandalkan ya. Aku akan memulai dari game.”

Walaupun Arin berkata begitu, tapi dari raut wajahnya ia tampak senang. Apakah mendapatkan kesempatan bertingkah seperti seorang guru membuatnya senang? Mereka yang ada di ruangan itu berpikir demikian.

“Mungkin kamu sudah tahu kalau game di sekolah ini bervariasi, seperti private game, class game, community game, academy game, dan lainnya. Itu tergantung host atau peserta yang mengikuti game-nya. Dan sudah menjadi hal umum di dunia di mana orang-orang akan mengikuti game jika ingin mendapatkan sesuatu, tidak lebih tepatnya mereka harus mengikuti game untuk bertahan hidup.”

“Tunggu, kalau ini sudah menjadi hal umum, kenapa Pak Ren menjelaskan game di sekolah ini seolah-olah hal yang baru untuk murid-murid baru sepertiku?”

“Itu karena Kepala Sekolah Felycia memberikan servis kepadamu. Semua guru sekarang sudah tahu kondisimu yang kehilangan ingatan, jadi Kepala Sekolah Felycia menggunakan kesempatan upacara penerimaan untuk mengajarkan kehidupan di dunia ini seperti apa, lagi pula itu juga harusnya menjadi hal normal bagi guru untuk menjelaskan peraturan sekolah pada murid baru, ‘kan?”

Selagi mereka saling mengobrol, Neil, Riel, dan Ethel memakan hidangan di atas meja.

“Silahkan lanjutkan.”

“Nm! Untuk batasan dalam game itu sebenarnya tidak ada. Mengingat ini adalah ‘Peraturan Mutlak’ maka kondisi dan hadiah akan pasti ada. Contohnya game-mu dan Neil. Kalian pasti membuat suatu kondisi kemenangan atau kekalahan dan menaruhkan harga diri kalian sebagai taruhan, ‘kan? Maka, jika kamu memiliki hak atas hadiah tersebut. Kamu bisa saja menyuruh Neil untuk bunuh diri saat ini juga, dan Neil sama sekali tidak punya hak untuk melawan.”

“Begitu ya, aku rasa harga diri adalah sesuatu yang mahal untuk dipertaruhkan. Tapi kalau aku memerintahkan sesuatu yang bersifat luas seperti ‘mati’ alih-alih bunuh diri, apa Neil tidak akan mati saat itu juga karena pada akhirnya dia akan mati sebagai makhluk hidup?”

“Betul! Kasus itu sering terjadi sebagai contoh ‘pengampunan’ dari berbagai komunitas.”

Arin menempatkan jari telunjuknya dan membalas dengan imut saat Willem mengangguk.

“Kalau begitu dalam kasus di mana kami seri di sebuah game dan mendapatkan hak atas satu perintah, apa perintah yang diberikan terlebih dahulu bisa dipatahkan dengan perintah dari lawan?”

Arin menggeleng saat membalas, “Tidak bisa, itu adalah peraturan mutlak jadi tidak bisa dipatahkan walaupun dengan perintah mutlak juga.”

“Sudah kuduga, lanjutkan.”

“Untuk komunitas, di sini—tidak lebih tepatnya di dunia ini, ada sebuah perkumpulan kecil maupun besar yang disebut  komunitas, organisasi, circle, dan lainnya sesuai daerah tersebut. Masyarakat ataupun murid wajib ikut andil dalam komunitas tertentu, atau mereka akan kesulitan bertahan di sini.”

“Berarti aku tidak punya alasan untuk menolak sebuah komunitas ya?”

Willem bergumam sambil meletakkan jari di dagunya.

Sudah setengah pertanyaan Willem terjawab, ia mungkin sudah mengerti betul dasar-dasar tentang cara hidup di sekolah ini. Namun pertanyaan yang sebenarnya membuatnya penasaran belum dijawab, terlebih lagi Arin harus cepat-cepat menjawab pertanyaan Willem sebelum hidangan makan malam habis oleh Neil dan Riel.

“Untuk kekuatan selain sihir, itu ada. Mungkin karena kamu kehilangan ingatanmu dan menjadi lupa dengan bakat milikmu sendiri, nama kekuatan itu adalah Divinity. Divinity mempunyai konsep yang berbeda dengan sihir, sebaliknya mereka saling berlawanan. Sebagai contoh sihir harus melewati beberapa tahapan, seperti rapalan, penyaluran mana, formasi, dan lainnya. Berbeda dengan Divinity yang bisa melakukan sesuatu tergantung jenis Divinity apa itu tanpa melewati tahap tertentu, bisa dibilang konsepnya mirip dengan sihir elemen dasar. Juga, Divinity tergolong unik karena kekuatannya yang berbeda dengan sihir dan dimilikki oleh orang sejak lahir.”

“Apa ‘Divinity’ itu bisa ditaruhkan sebagai chip dalam game?

Yes! Itu bisa, dan bukan hanya Divinity saja, selain magic item ada juga Divinity Item.”

Jadi aku mempunyai kekuatan untuk membuat sebuah kawah itu berkat Divinity ya? Aku rasa diriku di masa lalu lumayan hebat.

“Dan untuk asal dari Game ….”

Semua orang yang sedang menikmati hidangan makan malam kecuali Ethel meletakkan alat makannya.

“Itu benar-benar dunia yang berbeda dari yang sekarang.”

Riel berkata setelah meneguk air dan menyunggingkan senyum miris.

“Sekitar 300 tahun lalu, sebelum kerajaan ini ada. Perang antara manusia dan ras lainnya sedang berlangsung, perang itu dimulai sekitar 1000 tahun sebelum Kerajaan Altheria ada.”

Tiba-tiba atmosfir menjadi berat ketika Arin mengubah topik pembicaraan ke sejarah Game. Kelihatannya ia juga tidak mau menceritakan ini saat makan malam, tapi ini sudah tugasnya sebagai guru, tapi Riel—

“Hei, Kak yang di sana. Apa Kakak mau menjadi pelayanku? Aku akan mengubah seragam pelayan yang tertutup itu dengan pakaian terbuka dan rok pendek.”

—Dan dengan cepat ia membunuh suasananya.

“Walaupun memakai setelan yang tertutup, Ethel masih memperlihatkan bentuk tubuhnya, jadi tidak perlu repot-repot mengganti setelannya kau tahu?”

Willem yang mengerti bahwa tidak bagus menarik topik pembicaraan semacam itu saat makan malam, ia mengambil umpan Riel dengan senyum simpul.

“Begitukah?”

Sedangkan Ethel yang menjadi bahan pembicaraan memilih diam sambil menikmati makan malamnya. Sepertinya ia tahu, dan memilih diam untuk mengalihkan topik pembicaraan ini.

Dan makan malamnya selesai. Riel White dan Willem pergi ke ruang tengah untuk beristirahat.

Sekarang sudah larut malam, dan mereka duduk di kursi dekat jendela di mana udara sejuk dapat terasa dari luar.

“Jadi, apa kau akan ikut denganku membuat sebuah komunitas?”

Riel bertanya sambil melihat keluar jendela yang menampilkan bulan purnama penuh di langit malam.

“Aku rasa aku tidak punya alasan untuk menolaknya, dan ngomong-ngomong ‘membuat’ yang kau maksud itu …, apa kau tidak ikut komunitas di sekolah ini?”

“Ya, jujur itu sangat membosankan. Tapi, komunitas yang diisi oleh murid-murid bermasalah akan menarik bukan?”

Willem sedikit menyadari keanehan dari perkataan Riel, ia memberikan tatapan penasaran ketika bertanya sambil menyunggingkan senyum miris.

“Apa kau Murid Bermasalah juga, Riel White?”

Riel mengalihkan pandangannya ke Willem selagi menaikkan senyum miring di wajahnya, ia membalas, “Biarkan aku memperkenalkan diriku lagi. Namaku Riel White, pemegang kursi pertama dari Sepuluh Penyihir Elit di Akademi Sihir Altheria sekaligus Murid Bermasalah di sekolah ini.”

“Apa?”

Mendengar jabatan Riel sebagai Sepuluh Penyihir Elit, Willem memberikan pandangan intimidasi ke Riel sambil berkata dengan menambahkan keseriusannya, “Jadi, kau lebih kuat dari Nea?”

“Tentu saja. Tidak ada satu pun murid di sekolah ini yang bisa mendekatiku, karena aku murid terkuat di sekolah ini.”

“Ohh, kalau begitu biarkan aku melihat seberapa besar kekuatanmu.”

“Kebetulan, aku juga sedang butuh teman bermain.”

“Kalau begitu, mainlah sebentar denganku, wahai Murid Terkuat.”

“Baiklah.”

Namun disaat mereka saling memberikan pandangan menantang, Ethel datang terlebih dahulu untuk memberitahukan bahwa kolam pemandian sudah siap.

Memilih antara bermain setelah makan atau berendam setelah makan, tentu saja yang mereka pilih ….

“Wahhhh, kolam pemandian ini benar-benar bagus. Bagaimanapun juga, aset ini sangat tidak ternilai.”

“Owh iya Cebol, apa ada persyaratan untuk membuat komunitas?”

“Kau satu-satunya orang yang berani memanggilku cebol kau tahu? Soal itu sebenarnya dua orang sudah cukup tapi, minimal di akademi harus ada enam orang. Mau itu dari golongan roh yang mencapai Human Spirits seperti Ethel tadi atau dari ras lain.”

Willem sedikit terkejut ketika mendengar bahwa Riel mengetahui kalau Ethel itu adalah roh, padahal Arin dan Neil tidak menyadari hal itu. Tapi, Willem rasa ini hal normal untuk kasus murid terkuat itu, jadi ia tidak menunjukkan keterkejutannya.

“Jadi kurang dua orang ya?”

Menyandarkan tubuhnya ke pinggiran kolam, Willem mendesah sambil melihat langit.

“Ya, menurutmu siapa yang akan menjadi murid bermasalah ketiga di komunitas kita??”

“Entahlah, aku hanya tahu aku murid bermasalah keempat di sekolah ini.”

Willem memberikan senyuman simpul dan berdiri untuk keluar dari kolam pemandian.

Bagian 2

Ibukota Kerajaan Altheria, Altea, Gerbang Luar.

Matahari telah terbenam di barat, dan sekarang adalah waktunya bagi bintang untuk bersinar di langit.

Setelah selesainya urusan di Altea, tatapan Nea terlihat berbinar-binar bersemangat, karena ini saatnya ia kembali ke Akademi Sihir Altheria. Ia menyunggingkan senyum ketika akhirnya ia bisa melanjutkan janjinya kepada Willem.

Mendapat panggilan mendadak ketika mengantar Willem ke ruang kepala sekolah, Nea sedikit terkejut sekaligus penasaran tentang alasan apa sampai-sampai ia dipanggil.

“Baiklah. Aku akan sampai di akademi besok malam.”

Nea menyunggingkan seulas senyuman manis saat ia melihat jalan setapak di depannya. Ia kemudian membalikkan badannya untuk berjalan memasuki gerbang untuk kembali masuk ke Altea.

Bagian 3

—Pagi berikutnya, hujan deras datang seperti kabut dan semakin lebat saja tanpa ada sedikit pun suara guntur yang bergemuruh.

Kelembapan udara di dalam mansion berubah menjadi angin dingin yang masuk melewati celah-celah jendela yang pecah karena angin yang bergerak secara horizontal ke jendela membawa air hujan yang sudah membeku.

Willem menyuruh Ethel untuk tidak mendekati jendela karena hujan ini benar-benar berbeda dengan hujan kemarin.

Menelusuri dari jendela, Willem melihat hujan yang turun berubah menjadi butiran es yang menghasilkan suara menganggu saat mengenai atap dan kaca mansion.

Selama rentang waktu itu Willem teringat dengan perkataan Steven yang merujuk tentang hujan ini. Mendengar itu Willem jadi sangat yakin kalau ada pelaku di balik badai ini, terutama hipotesis Steven yang mengarah pada dirinya.

“Benar juga.”

Willem mengingat sesuatu dan berlari menuju ruang tengah di mana Ethel berada.

“Ethel, apa roh kuat tidak perlu menjalin kontrak untuk mempertahankan wujudnya?”

Ethel yang sedang duduk diam terkejut ketika tiba-tiba ditanyai tentang topik roh.

“Bisa, tapi kekuatannya akan sangat menurun dan membutuhkan waktu untuk pulih.”

“Terima kasih, aku akan pergi ke akademi dahulu!”

Ethel yang melihat Willem pergi secara terburu-buru menelengkan kepalanya kebingungan.

Sementara Willem yang berlari menembus badai kini mengenakan setelan hitam yang dulu ia pakai, yang kini sudah basah karena air mulai merembes ke dalam jaket dan kausnya sehingga memberikan perasaan yang mengerikan.

Terlebih lagi, air hujan yang sudah berubah menjadi es ini turun dengan cepat dan jatuh mengenai tubuh Willem dengan keras. Walaupun temperatur tidak mencapai titik di mana bisa membekukan air ataupun udara, tapi air hujan yang berubah menjadi es ini memberikan tanda bahwa ada pelaku di balik badai ini.

Willem mendengarkan suara gemertak jendela-jendela bangunan terbengkalai yang diakibatkan badai saat ia berlari menuju bangunan sekolah.

Dari area reruntuhan, Willem berbelok dari jalur yang sudah berubah menjadi kawah ke area hutan. Dan setelah melewati area hutan Willem akhirnya sampai di depan area sekolah dan berlari masuk menuju ruang kepala sekolah.

Di depan pintu ruang kepala sekolah Willem berdiri lalu mengetuk pintu dengan pelan, dan suara Felycia terdengar.

“Silahkan masuk.”

Willem mendorong pintu dan berjalan masuk dengan pakaian yang basah dan meneteskan air yang mengenai lantai ruang kepala sekolah yang dipenuhi tumpukan buku.

“Oh, itu benar-benar tidak baik masuk ke ruanganku dengan pakaian basah itu.”

Felycia menyunggingkan seulas senyum simpul saat menyambut Willem, lalu setelah itu udara panas menyelimuti Willem dan sekejap tubuh Willem yang basah dan dingin menjadi kering dan hangat.

Willem biasanya akan terkejut dengan bertanya sihir apa yang ia gunakan, tapi Willem mempunyai sesuatu yang lebih penting untuk ditanyakan, jadi ia mengesampingkan pertanyaan itu dahulu.

“Biarkan aku langsung ke intinya, apa hujan ini disebabkan oleh roh yang aku panggil?”

“Benar, jadi apa yang akan kaulakukan?”

“Entahlah, tapi aku punya pertanyaan lain.”

Felycia yang menutup matanya menaikkan alisnya seakan berkata, “Apa itu?”

“Tentang julukan ini, Murid Bermasalah. Kenapa aku mendapat julukan ini dan mendapat pin lingkaran?”

Felycia kemudian mengulurkan tangannya dan menepukkan tangan.

Kemudian, ruangan yang dipenuhi tumpukan buku tersebut berubah menjadi sebuah ruang santai dengan luas sama seperti ruang kepala sekolah tapi lebih rapi dan buku-buku di sini ditata dengan rapi di lemari buku.

Bagaimanapun juga, kali ini ia benar-benar penasaran dan bertanya apa yang Felycia lakukan. Apakah dia menteleportasikna dirinya dan Felycia? Apakah Felycia mengubah bentuk ruangan ini? Yang pasti, hal yang dilakukan Felycia benar-benar menakjubkan bagi Willem.

“Aku akan menyebutkan alasan kau mendapat julukan Murid Bermasalah.”

Sambil berkata begitu, Felycia mengambil sebuah dokumen di loker mejanya kemudian mencabut sebuah pena bulu dari udara tipis. Menuliskan sesuatu di sana, Felycia mulai menjelaskan.

“Apa kau tahu tempat di mana Nea menemukanmu?”

“Di ujung timur area sekolah?”

“Ya, dan kau tahu apa yang terjadi saat para guru menginvestigasi area tersebut? Jawabannya area di belakang tebing tersebut sangat berantakan. Yah, yang paling menarik adalah alasan kenapa formasi sihir kuno tersebut menghalangi tempat dirimu ditemukan.”

“Hanya itu?”

“Tidak, sebenarnya lebih dari itu, namun aku akan menceritakannya saat di waktu yang tepat. Juga alasan ‘kecil’ lain kau mendapat julukan murid bermasalah adalah seperti. Membawa roh wanita ke rumahmu, menghancurkan seluruh area reruntuhan yang seharusnya masih belum kaumilikki dan masih milik Akademi, mengabaikan perintah guru saat upacara penerimaan, dan memanggil roh dengan level Divine Spirits dan menimbulkan badai dalam tiga hari berturut-turut. Ahh, ngomong-ngomong dengan yang terakhir, aku berterima kasih.”

“Tunggu, kesampingkan kau berterima kasih kepadaku dan roh wanita, Divine Spirits? Itu pasti benar-benar berbeda dengan roh level Human Spirit seperti Ethel, ‘kan?”

Willem memberikan pandangan mengilat penasaran kepada Felycia.

Felycia yang matanya tertutup, terbuka sambil menyunggingkan senyum miring, dan begitu ia membuka matanya Willem dapat merasakan kembali atmosfir yang tiba-tiba menurun.

“Ya, bisa dibilang, mereka memiliki tingkatan SS jika diberikan sesuai tingkatan sekolah ini. Ahh, mereka yang aku maksud adalah Divine Spirits terlemah.”

“….”

Willem tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Divine Spirits terlemah memiliki tingkat SS? Willem hanya bisa tersenyum kecut saat mendengar itu. Tapi, Willem menjadi tiba-tiba intens dengan hal ini. Terutama ia pernah merasakan sekali kekuatan dari seorang Divine Spirits, apalagi contoh kehidupan yang dibuatnya ada bersamanya.

Mengenai hal itu, Willem bingung. Tingkatan hanya ada di sekolah ini jadi hanya mencapai tingkat SS dan murid yang memiliki tingkat itu adalah Riel. Jadi Willem berkesimpulan kalau tingkatan SS adalah tingkat tertinggi yang mampu dinilai Akademi.

Juga jika ia membandingkannya dengan Ether, sudah pasti perbedaannya sangat jauh, jika Willem memberikan pendapatnya untuk menilai Ether sudah pasti ia memberikan SSS+ jika nilai itu ada, atau bahkan lebih dari itu.

Mengesampingkan hal itu, Willem melempar pertanyaan kepada Felycia selagi melipat kedua lengan di dadanya.

“Ngomong-ngomong apa di Akademi ini ada perpustakaan? Aku ingin pergi ke sana untuk mencari informasi lebih jika memungkinkan.”

Felycia menutup matannya dan tersenyum saat membalas dengan ringan, “Kebetulan, aku juga akan menyarankan itu kepadamu, aku akan mengatarmu.”

Sekali lagi, Felycia kemudian mengulurkan tangannya dan menepukkan tangan.

“Kita sudah sampai.”

Kali ini tidak ada yang berubah, ruangan tanpa jendela dengan hanya pencahayaan lampu ini masih dalam bentuk yang sama.

Menundukkan kepalanya sopan, Willem membuka pintu dan segera tatapan Willem terlihat berbinar-binar bersemangat. Ketika melihat di hadapannya terdapat deretan lemari buku dan tangga-tangga yang menyambung ke lantai dan sisi mana pun. Membuatnya mendesah saat ia berdiri di lantai terbawah di tempat yang mirip seperti menara piza tapi tegak dan lebih besar dan tinggi tersebut.

“Oi, aku berterima kas—“

Ketika ia membalikkan badannya untuk berterima kasih kepada Felycia, tapi pintu yang menghubungkan dengan ruangan Felycia menghilang.

Ya ampun, ia benar-benar wanita yang misterius.

“Yah, untuk sekarang aku harus membaca semua buku-buku ini.”

Dan setelah itu, Willem berjalan-jalan mengelilingi lantai satu beberapa kali, dan ya, ia sama sekali tidak tahu harus memulai dari mana. Jadi ia berpikir untuk mencari daftar pustaka.

Beberapa saat kemudian, saat Willem berjalan di samping tangga yang menuju lantai dua. Willem dapat melihat sosok seorang perempuan yang memakai seragam Akademi Sihir Altheria yagng sedikit berbeda dengan yang Nea pakai. Berjalan menuruni tangga dengan membawa tumpukan-tumpukan buku di tangan mungilnya.

Hal yang dipikirkan Willem saat melihat perempuan itu adalah, “Hei, apa kau pustakawan di sini?”

“Heh?! A-A-A-Ahhhhh!!”

Entah apa yang terjadi, perempuan itu tiba-tiba terkejut ketika mendengar suara Willem lalu kehilangan keseimbangannya dan terjatuh ke atas lantai yang datar.

“Uhhh ….”

Si gadis mengangkat kepalanya, hal yang mencolok saat Willem melihatnya adalah kedua matanya yang memiliki warna berbeda. Mata di sebelah kirinya memiliki warna kuning keemasan sedangkan mata kanannya memiliki warna biru. Ia juga mempunyai rambut biru muda panjang, kulit seputih salju yang halus, dan di atas kepalanya ada sebuah topi putih.

Juga, fitur wajahnya yang imut sangat cocok dengan topi miliknya, yang membuat Willem berpikir kalau gadis itu sangat pintar dalam hal berpakaian, karena bisa memaksimalkan kecantikannya dengan topi dan aksesoris lainnya.

Jika dibandingkan dengan gadis-gadis yang Willem temui sejauh ini, gadis ini mendapat peringkat pertama dalam hal keimutan.

Memiringkan kepalanya, si gadis berkata dengan suara yang sangat indah dan tipis, “… Kakak?”

“….”

Willem tidak tahu harus bersikap bagaimana ketika dirinya dipanggil “Kakak” oleh si gadis. Namun sebagai pria tentunya ia senang dipanggil seperti itu, tapi Willem menyembunyikan kebahagiaannya saat berkata sambil mengulurkan tangannya.

“Kau tidak apa-apa?”

“Eh? Uh, ah, ehh, uh, uh, eh. A-A-Aku tidak apa-apa.”

Ia tampak malu-malu dan tersipu saat menjawab dengan terbata-bata.

Menerima uluran tangan Willem dan berdiri, gadis itu merapikan seragamnya dan membenarkan topinya.

“Aku Willem Ainsworth, namamu?”

“Huh?! T-Tapi ….”

“Tapi?”

Si gadis terlihat linglung, wajahnya yang memerah benar-benar terlihat kebingungan. Dan seperti telah membulatkan tekadnya, gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan melihat Willem.

“A-A-Aku,  L, Lavea F-Forenthine. Dan aku bukan pustakawan.”

“Begitu ya? Kalau begitu bisakah kau beri tahu aku di mana daftar pustaka perpustakaan ini?”

“Buku apa yang sedang Ka … Willem cari?”

Lavea yang bertanya dengan suara tipis dan hampir tidak terdengar itu berjongkok untuk membereskan buku-buku yang berserakan.

Memikirkan buku apa yang ingin ia cari, Willem meletakkan jari di dagunya.

“Sihir, roh, divinity, dan beberapa buku sejarah. Itu untuk sekarang sepertinya.”

“Aku akan mengambilkannya, jadi … Willem bisa menunggu di sini, tidak, maksudku di meja sana.”

Lavea menunjuk ke arah meja coklat panjang di belakangnya, walaupun kali ini ia berbicara dengan lancar, tapi sifatnya masih kikuk dan membuat Willem tersenyum.

“Aku tertolong, jadi biarkan aku membawa tumpukan buku itu.”

Willem berjongkok lalu mengambil sisa-sisa buku yang berserakan di lantai dan mengambil buku yang dibawa Lavea, dan berjalan menuju meja panjang dan menyimpannya di sana.

Bagian 4

—Sementara di mansion, Ethel sedang terlelap di atas sofa saat hujan mulai sedikit mereda.

Mendapat perintah untuk tidak mendekati jendela saat hujan, Ethel tidak tahu harus melakukan apa. Jadi ia memilih untuk mengistirahatkan dirinya, dan memejamkan matanya untuk tidur.

Dan saat itu, tiba-tiba Riel masuk dari pintu depan dengan pakaian yang sudah basah kuyup. Karena suara Riel yang berjalan pelan dan berhati-hati, Ethel tidak bangun dari tidurnya.

Riel tersenyum simpul ketika melihat Ethel yang tertidur. Napasnya yang berhembus pelan dan teratur menghasilkan dengkuran pelan yang imut. Ethel juga sekarang masih mengenakan seragam maid-nya yang tampak hangat. Tadinya Riel berpikir untuk melompat dan memeluk Ethel, namun ia segera mengenyahkan pikiran itu karena tidak ada gunanya melakukan itu saat basah kuyup seperti sekarang.

Berjalan menuju halaman belakang di mana kolam pemandian berada. Riel dengan cekatan membuka pakaiannya dan melompat masuk ke kolam pemandian orang lain.

Tapi walaupun begitu, Willem sudah menyetujui bahwa dirinya akan membuat sebuah komunitas bersamanya, jadi Riel bisa menganggap kolam ini sebagai miliknya. Walaupun ia memiliki hal yang ingin dilakukan dengan Willem, Riel menurunkan bahunya dan menyandar di sisi kolam. Bagaimanapun juga, hal yang harus dilakukan sekarang adalah menikmati air panas ini.

Setelah itu, Riel yang selesai berendam mencari keranjang pakaiannya, namun ia tidak menemukan pakaiannya dan mendapati sebuah yukata di keranjang pakaiannya.

“Wahh, gadis itu sungguh sangat ahli.”

Riel bergumam sambil mengenakan yukata tersebut yang menurutnya sudah disiapkan Ethel. Ia pun berjalan menuju ruang tengah berharap menemukan Ethel, dan harapan itu terwujudkan, tidak, lebih dari itu. Ethel baru saja menyiapkan segelas teh hangat untuk Riel.

“Selamat pagi, ya ampun. Aku jadi sedikit iri dengan Willem.”

“Selamat pagi Tuan Riel—“

“Tidak, panggil saja aku ‘Riel’.”

“Dimengerti.”

Ethel mengangguk pelan lalu membungkukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum simpul.

Riel lalu duduk di atas sofa yang hangat dan empuk sambil mengangkat gelas teh dan melempar pertanyaan ke Ethel, “Ya ampun, kenapa Willem bisa mendapat pelayan sepertimu?”

“Itu adalah cerita yang panjang.” Ethel membalas dengan ringan.

“Begitukah? Kalau begitu lain kali aku ingin mendengarnya. Ngomong-ngomong soal itu, apakah kau sebenarnya adalah Ether?”

Ethel terlihat terkejut.

Ia mungkin tidak menduga bahwa pembicaraan ini akan mengarah pada dirinya.

“Tidak, Riel. Kenapa Anda bisa berpikir begitu?”

“Hmm, yah aku bisa sedikit merasakan spirits yang sama saat aku bertemu dengan Ether dahulu.”

“Baiklah, bagaimana sebaiknya saya menjelaskannya? Bisa dibilang saya adalah roh yang menerima partikel roh Nona Ether.”

“Begitukah?”

“Nn, alasan Riel merasakan ‘spirits’ yang sama dari saya, mungkin karena ada sebagian kecil partikel Nona Ether di dalam diri saya.”

“Hehh.”

Riel menyesap teh miliknya lalu menyuruh Ethel duduk di sampingnya.

“Karena kau adalah seorang ‘human spirits’ yang dibuat Ether, kau pasti diberi sebuah Divinity, ‘kan? Mengingat ia adalah roh level bintang?”

“Ya, nama Divinity saya adalah ‘Creation’.”

Riel kehilangan kata-kata selama beberapa saat.

“Bukankah itu terdengar seperti sebuah berkat yang sangat kuat?”

“Benarkah? Tapi saya sekarang hanya bisa memperbaiki dan membuat kebutuhan rumah tangga saja.”

“Tidak. Ini adalah pertama kalinya aku mendengar nama Divinity yang seluas itu. Mungkin saja kekuatanmu bisa lebih dari itu. Apa Willem tahu hal ini?”

Ethel menggelengkan kepalanya.

“Jika Willem mendengar ini, mungkin saja dia akan berjingkat-jingkat saat mendekatimu. Ahh, ngomong-ngomong soal itu, kenapa dia bisa bertemu dengan Ether? Apa ada hubungannya dengan Nea?”

Ethel membelalakkn matanya terkejut lalu membalas, “Ya, saya dengar Willem pergi ke Etheria dengan seorang wanita bernama Nea. Saat setelah Willem merapal sihir pemanggilan tingkat akhir dan memanggil Divine Spirit— itu yang saya dengar dari Nona Ethel.”

Riel tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk kakinya dan meletakkan gelas teh di atas meja.

“Ya ampun, Willem memanggil seorang Divine Spirits di tanah para dewa berada, dipercobaan pertamanya? Tapi, Nea, aku tidak menyangka ada orang yang bisa memakai sihir itu selain ahli sihir yang setingkat Felycia. Sudah kuputuskan, bakatnya sangat diperlukan oleh komunitas kita, aku akan mencoba membujuknya.”

Saat mengatakan itu, Riel menyunggingkan senyum lebar yang licik dan tidak mencerminkan dirinya yang mempunyai tubuh seorang anak kecil.


Terima kasih telah membaca Light Novel ini!

Sampai jumpa lagi di Laskar Anime Indonesia ya!

Ngomong-ngomong buat yang penasaran dengan chapter sebelumnya bisa PM saya, ini link FB saya  > Yuu Natsume

 

Comments

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More